Sep 3, 2013

Belajar mempercayai sistem

Pernah berada di persimpangan jalan yang ramai dan semrawut? Kendaraan saling seruduk, saling mendahului tanpa mengindahkan kendaraan lain. Walaupun ada beberapa "pak ogah" membantu mengurai keruwetan, hasilnya justru semakin menjadi-jadi. kenapa demikian?
Perlu disadari bahwa kita berada didalam sistem. Sistem secara sederhana menggambarkan kesatuan elemen yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan. Misalnya sistem pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas sdm; sama halnya dengan sistem lalu lintas (lalin) yang akan kita bicarakan diatas punya tujuan menciptakan ketertiban lalu lintas.
Nah ketika kesemrawutan di persimpangan tadi, yang terjadi adalah ketidakpercayaan bahwa sistem bisa menyelesaikan masalah. Padahal hanya dengan intervensi memasang lampu lalin dipersimpangan, maka lalin akan mudah dikelola. Saya sering tidak habis pikir ditempat dimana saya sering menemui kemacetan terjadi karena ketidaan lampu lalin, kenapa pemda tidak memasang lampu lalin disana?
Kita harus belajar menghargai dan mempercayai sistem termasuk tidak saling serobot. Masyarakat Indonesia cukup permisif dan mudah kasihan, harus diakui itu. Saya pernah ngobrol dengan seorang pkl yg berjualan dekat persimpangan yg macet tadi, mengenai fungsi lampu lalin. Menurutnya, tidak apa-apa ada pak Ogah karena memang jadi pekerjaan, kalau ada lampu lalin kasihan mereka tidak bekerja. Bayangkan nilai kerugian akibat kemacetan jauh diatas keuntungan yang diterima pak Ogah (Saya akan bahas mengenai kerugian ini di posting berikutnya).
Nah kembali ke sistem lalin diatas, pemda/pemerintah perlu menambah lampu lalin disetiap persimpangan. Kemacetan pasti terjadi tp masyarakat harus diajarkan berada didalam sistem, bukan sebaliknya. Coba lihat sekitar kita, lihat dimana persimpangan yang semrawut dan usulkan ke pemda masing-masing.

No comments: