Sep 26, 2013

Postcrossing: hobi bertukar kartu pos

Akhir-akhir ini saya keranjingan kegiatan yang bisa dibilang hobby yaitu berkirim kartu pos. Kegiatan ini mengingatkan pengalaman semasa kecil yang tertarik dengan dunia surat menyurat. Ketika itu saya cukup sering berkirim surat bahkan titik balik antara saya dan wanita yang sekarang saya nikahi juga diawali oleh komunikasi surat. Mengoleksi perangko juga saya lakoni cukup lama hingga tamat SLTA dan masa kuliah memutuskan hubungan saya dengan kegiatan surat menyurat dan perangko.

Saya pernah menulis tentang perubahan jasa layanan kantor pos akibat majunya sektor telekomunikasi selular disini. Komunikasi tulis tangan seperti ucapan hari raya tergantikan oleh sms, whatsapp, BBM dan sejenisnya. Ini menandakan adanya kemajuan dalam bidang komunikasi dan era digital, menurut Thomas Friedman, membuat dunia menjadi datar dimana jarak bukan lagi masalah dan informasi berpindah demikian cepat.



Saya ceritakan sedikit tentang platform pertukaran kartu pos yang difasilitasi oleh postcrossing project. Aturannya sederhana, seseorang harus mendaftar dan login ke website postcrossing untuk mendapatkan alamat postcrosser (anggota postcrossing) secara acak. Setelah itu, kartu pos dikirimkan ke alamat penerima dengan mencantumkan kode unik yang nanti akan diinput didalam website untuk verifikasi kartu terkirim. Dengan demikian, pengirim dan penerima masing-masing mengetahui berapa kartu yang dikirim dan berapa yang diterima. Setelah kartu pos pertama diterima dan didaftarkan, maka akan ada seseorang (dibelahan dunia lainnya) yang akan mengirimkan kartu pos kepada kita. Berikut ini kartu pertama yang saya terima dari Florida Amerika Serikat.





Kenikmatan yang saya rasakan adalah ketika kartu pos yang kita kirim sampai dan di-register oleh si penerima, dan berharap cemas menunggu-nunggu kiriman kartu pos. Selain itu, saya membuat sendiri kartu pos yang saya kirimkan, sekaligus memanfaatkan kesenangan saya lainnya dibidang fotografi. Beberapa foto sudah saya jadikan obyek kartu pos seperti ini:

Mungkin ada yang tertarik memesan? :)

Sep 3, 2013

Belajar mempercayai sistem

Pernah berada di persimpangan jalan yang ramai dan semrawut? Kendaraan saling seruduk, saling mendahului tanpa mengindahkan kendaraan lain. Walaupun ada beberapa "pak ogah" membantu mengurai keruwetan, hasilnya justru semakin menjadi-jadi. kenapa demikian?
Perlu disadari bahwa kita berada didalam sistem. Sistem secara sederhana menggambarkan kesatuan elemen yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan. Misalnya sistem pendidikan bertujuan meningkatkan kualitas sdm; sama halnya dengan sistem lalu lintas (lalin) yang akan kita bicarakan diatas punya tujuan menciptakan ketertiban lalu lintas.
Nah ketika kesemrawutan di persimpangan tadi, yang terjadi adalah ketidakpercayaan bahwa sistem bisa menyelesaikan masalah. Padahal hanya dengan intervensi memasang lampu lalin dipersimpangan, maka lalin akan mudah dikelola. Saya sering tidak habis pikir ditempat dimana saya sering menemui kemacetan terjadi karena ketidaan lampu lalin, kenapa pemda tidak memasang lampu lalin disana?
Kita harus belajar menghargai dan mempercayai sistem termasuk tidak saling serobot. Masyarakat Indonesia cukup permisif dan mudah kasihan, harus diakui itu. Saya pernah ngobrol dengan seorang pkl yg berjualan dekat persimpangan yg macet tadi, mengenai fungsi lampu lalin. Menurutnya, tidak apa-apa ada pak Ogah karena memang jadi pekerjaan, kalau ada lampu lalin kasihan mereka tidak bekerja. Bayangkan nilai kerugian akibat kemacetan jauh diatas keuntungan yang diterima pak Ogah (Saya akan bahas mengenai kerugian ini di posting berikutnya).
Nah kembali ke sistem lalin diatas, pemda/pemerintah perlu menambah lampu lalin disetiap persimpangan. Kemacetan pasti terjadi tp masyarakat harus diajarkan berada didalam sistem, bukan sebaliknya. Coba lihat sekitar kita, lihat dimana persimpangan yang semrawut dan usulkan ke pemda masing-masing.