Aug 29, 2013

Ke(tidak)tahanan pangan

Akhirnya pecah juga bisul itu. Tunggu dulu bukan bisul itu yang saya maksud. Maksud saya, bisul itu adalah kenyataan pahit bahwa ketahanan pangan kita sangat lemah.
Belum lama, belum sebulan masyarakat ditampar oleh kdnaikan harga daging. Tidak hanya itu, daging sapi, diimpor dari luar negeri. Parahnya ini dijadikan bancakan dan jadi lahan korupsi. Sampai sekarrang harga daging masih tinggi.
Kedua, gara-gara kurs rupiah melemah ditengah perekonomian dunia yg lesu, harga tempe dan tahu naik. Kenapa? Karena kedelainya ternyata diimpor..
Makanan yang sering diasosiasikan sebagai makanan kelas menengah toh jadi semakin tidak terjangkau. Ketika daging sapi yg dikonsumsi kalangan menengah keataz harganya naik, orang akan beralih kepada penggantinya misalnya daging ayam, bebek dsb. Apa yg terjsdi dengan kalangan menengah kebawah? Ketika mereka tidak mampu membeli substitusinya mereka akan mencari yg lebih murah seperti tempe, tahu. Itu dulu ketika harganya labih murah tp kalau tempe tahu juga naik seperti sekarang ini, apa yang terjadi?
Impor tidak selamanya buruk, tetapi menyediakan produksi makanan secara domestik akan lebih baik. Ini akan menyediakan tenaga kerja dan menjaga produktivitas lahan. kebijakan apa yang kamu pilih?

No comments: