Mar 10, 2010

Mereka yang bergantung pada rokok

Ditengah masyarakat sedang timbul beragam kontroversi mengenai rokok dan dampaknya bagi kesehatan. Bagi penyokong rokok berdampak negatif bagi kesehatan, diantaranya yang paling mengerikan adalah rokok menyebabkan kematian, bahkan angka kematian akibat rokok menempatkan Indonesia pada negara terbesar ketiga setelah China dan India.

Marilah kita menarik diri sedikit dari kengerian ini, kita tengok bagaimana industri ini bekerja. Industri rokok sudah berkembang di tanah air bahkan jauh sebelum abad 19. Tahun 1880, rokok kretek ditemukan di Kudus. Nama kretek sendiri diabadikan dari suara pembakaran rokok yang mengeluarkan suara 'kretek..kretek' karena campuran tembakau dan cengkeh. Inilah yang membedakan pada perkembangan berikutnya, rokok dibedakan antara rokok kretek dan rokok putih (kita mengenal sebagai rokok dengan filter diujungnya).

Rokok kretek dikerjakan secara manual oleh tenaga manusia, walaupun saat ini sudah ada teknologi yang memungkinkan industri membuat rokok kretek dengan mesin. Pembuatan rokok kretek manual menyerap ribuan tenaga kerja dengan produktivitas 2000 batang per orang/hari. Dengan produktivitas sebanyak itu, pendapatan yang diperoleh mencapai Rp 450.000 - Rp 750.000 per bulan.

Selain tenaga kerja yang langsung terlibat dalam industri rokok di pabrik rokok, di belakang mereka ada ribuan petani tembakau, cengkeh, supplier yang terlibat sepanjang rantai produksi. Bisa dibayangkan, dampak langsung dan tidak langsung dari industri rokok lebih dari sekedar 60.000-an pekerja per pabrik.

Diatas itu semua, pasar rokok global ternyata cukup menjanjikan. Potensi pasar rokok dunia mencapai 6 Triliun batang dengan share Indonesia yang masih kurang dari 5%. Lihat saja pemain rokok global seperti Philip Morris, BAT diantaranya menguasai pasar rokok dunia. Sepertiga kebutuhan dunia dikuasai China, itupun ditujukan untuk konsumen China. Sepertiga lainnya dikuasai MNC rokok diatas, dan sisanya dibagi-bagi produsen rokok negara-negara seperti Jepang, Korea, Canada, dan Indonesia mengambil peran didalamnya.

Didalam negeri industri rokok seakan dijepit. Produsen rokok nasional beberapa telah dikuasai MNC rokok global, misalnya Sampoerna dan Bentoel. Kabarnya Gudang Garam akan menyusul. Selain itu industri rokok menghadapi tekanan publik dalam bentuk isu-isu kesehatan. Yang jarang terungkap adalah barrier to entry paska WTO semakin menyulitkan penetrasi industri rokok domestik ke negara-negara maju. Mudah dipahami, jika hambatan penetrasi pasar global dilakukan sebagai bentuk proteksi negara maju atas industri rokoknya. Tidak hanya itu, MNC tampaknya terdorong untuk melebarkan sayap ke negara berkembang untuk menguasai pasar rokok disamping mengambil alih industri rokok negara yang bersangkutan.

Untuk menjawab tantangan kesehatan, agak naif kalau solusinya sekedar menutup industri rokok mengingat penyerapan tenaga kerja yang cukup masif. Industri rokok juga menyumbang secara signifikan kepada pendapatan negara. Disamping itu, mengalihkan tenaga kerja ke lapangan kerja lainnya tidak mudah dan belum ada jaminan bahwa lapangan pekerjaan tersedia secara langsung.

Dari sisi industri, penetrasi pasar global menarik untuk didiskusikan. Memang ini menimbulkan problem NIMBY (not in my backyard), tapi apa yang dilakukan MNC global tidak jauh dari ini. Andai saja industri rokok kita bisa menguasai pangsa 5 % saja dari pasar dunia, sepertinya industri rokok tidak perlu melempar produknya ke dalam negeri lagi. Lebih baik industri rokok dipertahankan sebagai bagian dari 'warisan budaya' dengan rasa tembakau ala Indonesia, dengan memfokuskan untuk menggarap permintaan global.

Bagaimana dengan permintaan domestik? Saatnya pembatasan produk bisa diperkenalkan sehingga akan menaikkan harga rokok. Dengan demikian, orang miskin tidak dapat membeli karena harganya cukup mahal. Pengendalian rokok bisa dilakukan dengan menjual di outlet tertentu sehingga peredarannya diketahui.

2 comments:

Computer Ridho said...

makasih ya mas informasinya....
kalo sempat mampirke blog saya ya mas.....

Halaman Samping-nya Inung said...

tiap isu pelarangan atau pembatasan rokok, saya ingat saudara dari kakek-nenek di Temanggung, Jawa Tengah, salah satu sentra penting tembakau.

Mereka resisten thd isu ini karena matapencaharian utama dan rantai ekonominya lumayan panjang.

Ada pula usul penggantian komoditas. Daerah Temanggung, terutama Parakan, dahulu sempat memiliki favorit vanili. Tapi sejak lama telah berganti tembakau karena lebih menguntungkan.

Tambahan lagi, pemerintah lebih giat mendorong penanaman tembakau. Mungkin kontribusi PAD lebih tinggi.

Kalau sekarang, misalnya, petani didorong menanam vanili lagi, ya tinggal pemerintah konsisten atau tidak mendorong vanili sebagai pengganti tembakau dari hulu sampai hilir :)

Trims telah berbagi Pak :)

inunggunarba.wordpress.com
halamansamping.blogspot.com