May 28, 2009

Ketahanan pangan untuk pengurangan karbon, Quo Vadis?

Saya menemukan artikel menarik di kompas (disini) mengenai bagaimana mengurangi dampak pemanasan global dengan mengurangi konsumsi daging. Ini menarik karena merupakan langkah nyata untuk mengurangi dampak pemanasan global. Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru mengurangi konsumsi daging Anda. Mari kita melihat juga beberapa fakta menarik lainnya. Ternyata konsumsi daging di Indonesia relative rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya (disini).

Malaysia 36,7 kg/kapita/tahun,

Thailand 13,5 kg/kapita/tahun,

Filipina 7,5 kg/kapita/tahun,

Vietnam 4,6 kg/kapita/tahun, dan

Myanmar 4,2 kg/kapita/tahun.

Indonesia 4,7 gram/orang/hari, jauh dari target 6 gram.

Dari data yang saya cuplik tersebut, dibandingkan dengan Malaysia saja yang penduduknya lebih sedikit, konsumsi masyarakat kita kalah jauh. Apalagi dibandingkan dengan konsumsi daging di negara-negara maju.

Nah disini saya mulai bertanya-tanya bagaimana mengoptimalkan konsumsi daging yang cukup untuk ketahanan pangan masyarakat yang seimbang dengan upaya-upaya kita untuk mengurangi dampak pemanasan global? Apa iya kita mau mengurangi konsumsi daging yang sudah rendah demi pemanasan global? Atau ada cara lain, misalnya abis makan daging lalu tanam pohon dsb.

Mungkin saatnya kita beralih ke paradigma “equitable food access for human being”. Dalam paradigma ini ‘equitable access’ berkeyakinan tidak semua masyarakat punya akses yang sama untuk mengkonsumsi daging, ada yang kelebihan dan lainnya kekurangan. Kondisi ini dibentuk oleh beragamnya akses masyarakat diantaranya akses pendapatan, akses sumber daya alam, SDM, modal sosial. Oleh karena itu, akses masyarakat untuk mendapatkan makanan harus adil yang dimulai dari kemampuan untuk mendapatkan akses-akses tadi secara adil pula. Misalnya tersedianya lapangan kerja yang cukup akan mendorong akses pendapatan, dan seterusnya.

Adakah cara lain menurut Anda?

No comments: