Feb 22, 2009

Strategi sosial PKBL

Tanggal 18-22 Februari 08 Kementerian BUMN menyelenggarakan PKBL fair di JCC. Puluhan BUMN berlaga memamerkan keberhasilannya dalam membina UKM, macam-macam dari industri tekstil, aksesoris, kreasi kayu hingga makanan. Pameran ini tergolong sukses menampilkan UKM ke pasar yang lebih luas. Sayangnya masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.
Ide PKBL adalah kewajiban BUMN untuk menyisihkan 1-2% dari laba bersihnya untuk membina dan mengembangkan usaha kecil menengah. Program dapat disejajarkan dengan tanggung jawab sosial, CSR. yang merupakan ruh perlunya sektor privat mencapai 3 hal secara harmoni yaitu triple bottom line (people-profit-planet). Harapannya BUMN tidak hanya berorientasi laba/profit tetapi juga ikut menjaga lingkungan dan mensejahterakan masyarakat sekitar BUMN beroperasi.
Homogen
Dari pameran JCC, homogenitas sangat terasa. UKM yang tampil mayoritas industri tekstil batik sehingga pameran lebih terasa sebagai pameran batik daripada sisi PKBLnya. Padahal melihat wilayah operasi BUMN diseluruh Indonesia, pameran kemarin harusnya menggambarkan variasi kreasi dari sabang-merauke. Saya sempat bertandang ke stand kerajinan aceh, pontianak, jambi dan beberapa lainnya dari luar Jawa. Kreasi mereka juga cukup menarik dan berdaya jual.
UKM versus Ukm
Bedakan huruf k dalam sub judul diatas. Yang tampil di PKBL fair bervariasi tidak melulu industri kecil tapi juga Kecil. Tampak beda mana yang benar-benar kecil dan bukan. Contohnya dari beragam stand batik, yang kecil terlihat dari jumlah barang yang d display dan variasi yang terbatas. Yang Kecil, stok barangnya banyak, bahkan kartu namanya tertulis outlet di Sarinah dan ITC terkemuka d Jakarta. Wah seandainya UkM tadi bisa menembus pusat perbelanjaan elit pasti merupakan cerita sukses. Ceritanya jadi lain kalau PKBL ternyata salah sasaran dengan membina UKM yang sudah mapan.
Disini memang BUMN sering kesulitan menetapkan siapa yang harus dibantu. Penentuan prioritas kadang tidak dilakukan secara baik dan memperhitungkan kapasitas UKM yang bersangkutan, BUMN hanya fokus pada penyerapan dananya saja. Jalan pintas sering dipakai dengan membina UKM yang success rate-nya lebih jelas. Padahal yang diperlukan oleh UKM tidak hanya modal, tetapi pembinaan untuk mengembangkan usahanya. Akses pasar dan pengetahuan merupakan salah satu diantaranya.
Di atas semua itu, pengembangan usaha kecil merupakan strategi sosial bagi BUMN untuk mempertahankan kelangsungan usahanya dan harmoni bersama masyarakat sekitarnya.

No comments: