Oct 1, 2008

Sopir taksi bicara inflasi

Pembicaraan mengenai inflasi secara tak sengaja terjadi di dalam taksi dari Bandara Juanda ke rumah istri saya di Tandes. Pembicaraan ini bermula ketika saya menanyakan kewajaran tarif taksi bandara. Tahun 2004, saya naik taksi ke alamat yang sama hanya Rp 40.ooo; sedangkan saat ini tarifnya naik mencapai Rp 114.000. Kurang lebih ada kenaikan tarif sekitar 30 persen.

Sang sopir taksi kemudian menjelaskan kenapa tarif saat ini demikian tinggi. Katanya, tahun 2004 bensin masih dibawah 2.000-an sementara saat ini bensin sudah 3 kalinya Rp 6000. Jadi wajar saja kalau tarif taksi naik mengikuti kenaikan harga bensin.

Mari kita lihat data BPS disini
1. inflasi year on year Maret 2005 terhadap Maret 2004 = 8,81%
2. inflasi year on year November 2006 terhadap November 2005 = 5,92%
3. ....2007 terhadap ..... 2006 = missing
4. inflasi year on year Juni 2008 terhadap Juni 2007 = 11,03%

kalau kita jumlahkan inflasi dari tahun 2004 - 2008 sekitar 25,7%; berarti kalau ditambahkan dengan data yang missing di tahun 2007, tampaknya argumen sang sopir taksi mengenai tarif saat ini masih masuk akal. Tentunya komponen kenaikan BBM telah diperhitungkan dalam menghitung pergerakan inflasi bulanan maupun yoy.

Yang hebat sesungguhnya sopir taksi yang bicara inflasi tanpa perlu melihat detil data, cukup 1 indikator saja harga BBM.

4 comments:

Berly said...

30% ? dari 40 rb ke 114 ribu kenaikannya 285 % kan...

pelantjong maja said...

Thanks ber, terlalu semangat nulisnya sampai satu angka nol-nya ketinggalan ;-)

Looner said...

wah berat. sebenernya saya mau komen tntg laskar pelangi, tapi takut komen saya gak dibaca, ya saya komen disini aja. saya punya pertanyaan sedikit nih, apa laskar pelangi ntu juga cuman euforia orang Indonesia di tengah keringnya tontonan yang bermutu. saya khawatir laskar pelangi kayak film ayat2 cinta yang jadi fenomena lantas menguap. saya sendiri belum nonton filmnya sih, tapi saya sudah baca bukunya

pelantjong maja said...

looner: kalau dibilang film fenomenal mungkin saja. tapi jangan lupa, kekuatan laskar pelangi justru pada novelnya. film-nya sebenernya output ikutan yang pada awalnya tidak terlalu diharapkan oleh andrea hirata sendiri