Oct 1, 2008

Review Laskar Pelangi: The Movie


Film yang ditunggu-tunggu pembaca karya Andrea Hirata ‘Laskar Pelangi’ akhirnya tayang di layar lebar sejak 25 September 2008 (disini). Konon, bioskop di seputaran Jakarta penuh sesak penonton yang ingin menyaksikan sebuah novel laris yang difilm-kan.

Kesempatan menonton film itu akhirnya datang juga. Memanfaatkan momen lebaran, setelah silaturahmi saya, istri serta anak semata wayang, Narendra menonton ‘Laskar Pelangi’ di Sutos (Surabaya Town Square) Cinema XXI. Lebaran di bioskop ternyata menyenangkan juga karena penontonnya tidak terlalu banyak, saya hitung sekitar 30-an orang. Konsekuensinya HTM-nya agak sedikit mahal dibandingkan hari biasa (Senin-Jumat)

Saya dan Fajar memang menyiapkan diri secara khusus terutama ketika mendengar film-nya akan tayang akhir September. Walaupun agak telat, kami pun membeli buku Laskar Pelangi. Saya sendiri belum sempat menyelesaikan seluruh bab, sedangkan Fajar sudah menamatkan buku itu dalam waktu seminggu. Well, berbekal istri yang sudah menamatkan ‘Laskar Pelangi’ dan saya yang lebih penasaran dengan film-nya; seperti bertemu tumbu dengan tutupnya.

Dari film yang diproduksi Mira Lesmana (Miles) tersebut, istri saya melihat beberapa kelemahan jika dibandingkan dengan versi novelnya. Menurut dia, sekuen waktu yang tergambar dalam buku tidak diikuti didalam film, misalnya adegan ketika Lintang melintasi sarang buaya dalam perjalanan menuju pertandingan cerdas cermat, sedangkan versi buku menggambarkan kejadian tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa suatu hari Lintang datang ke sekolah ketika pelajaran hampir berakhir. Contoh kedua, adegan pertandingan cerdas cermat terjadi pada masa sekolah dasar, sedangkan di dalam novelnya, cerdas cermat terjadi pada masa SMP.

Hal lainnya yang kurang menggelegar adalah ketika adegan tarian dalam karnawal, dimana seharusnya diikuti tidak hanya oleh 10 laskar pelangi tetapi juga adik-adik kelasnya yang berperan sebagai penggembala. Pertunjukan karya Mahar itu seharusnya terlihat kolosal. Satu lagi, didalam novel tidak satupun disebut mengenai meninggalnya Pak Harfan, sang Kepala Sekolah atau munculnya tokoh ‘Lani’ yang menghancurkan hati Ikal sewaktu membeli kapur. Ikal justru mengharapkan kemunculan ‘Aling’ yang pada saat itu sudah dikirim ke Jakarta menemani orangtuanya. Di dalam novel, tokoh ‘Lani’ tidak ada, justru pengganti Aling adalah seorang laki-laki.

Bagi saya yang belum selesai membaca novelnya, ada adegan yang serasa kurang nyambung dengan adegan sebelumnya atau sesudahnya. Adegan Flo menghilang di rawa sepertinya muncul tiba-tiba tanpa ada keterkaitan dengan adegan berikutnya. Istri saya menambahkan, didalam novel Flo hilang ketika berdarmawisata dan berhasil ditemukan oleh kelompok yang dipimpin Mahar (ini menjelaskan kenapa ketika Flo pindah sekolah, dia duduk sebangku dengan Mahar).

Saya sendiri agak berbeda pendapat, dalam hal menyampaikan pesan mengenai pentingnya pendidikan, sikap pantang menyerah, kekuatan mimpi/cita-cita, saya melihat film ini bisa menyampaikannya dengan cukup baik. Ditambah lagi, pesan mengenai kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan sangat mudah dirasakan secara visual dibandingkan penggambaran tertulis di dalam novel. Saya harus mengakui penggambaran isu-isu ini di dalam novelpun cukup baik, namun untuk kalangan yang lebih luas penggambaran visual didalam film ini cukup mengaduk-aduk perasaan. Bagaimana adegan demi adegan disusun untuk menggambarkan kondisi di SD Muhamadiyah dengan SD PN Timah seperti bumi dan langit, pesan seperti inilah tampaknya yang hendak ditonjolkan dalam film ini.

Seperti juga dalam film-film yang mengeksplorasi alam bebas, film ini cukup kuat menggambarkan keindahan alam Pulau Belitung dari padang savanna hingga pantai berbatu yang indah. Film ini juga meng-eksploitasi dengan cukup baik adegan-adegan ketika para aktor menaiki sepedanya. Tidak heran dari awal hingga akhir, elemen sepeda tidak bisa dilepaskan dari film ini.

Akhirnya dalam debat sepanjang perjalanan pulang dari bioskop, saya menyimpulkan bahwa tidak mungkin menuangkan seluruh halaman novel (534 halaman) ke dalam scene berdurasi 2,5 jam. Alhasil beberapa adegan pendukung memang tampak seperti pendukung saja tanpa bisa memperkuat plot utamanya. Anyway, saya tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton khususnya untuk mengingatkan cita-cita masa kecil yang terlupakan dan pentingnya pendidikan bagi tiap warga negara di Indonesia.

Akhirnya bagi yang belum menonton: Selamat Menonton!

sinopsis laskar pelangi bisa dibaca disini, disini, Sastra Belitong

1 comment:

Halaman Samping said...

Ketika baca novelnya hingga bab 3, sy agak tersendat2 karena kerjaan. setelah itu sampai halaman trakhir tuntas dlm 3 hari, seperti marathon, kyak trance mbaca tarian kata2nya Andrea he3

Semalam, ketika pengen nonton (lagi) di taman Anggrek tyt udah kursi dah full. busyet deh, kayakya bisa nembus 2 juta penonton nih, bahkan lebih.

Bener mas, film ini emang musti ditonton. kalo dah ada DVD originalnya kayaknya perlu py koleksinya he3