Oct 12, 2008

Krisis yang dibakar api kemapanan

Kita mungkin tidak pernah mengira persepsi mengenai kemapanan bisa menarik ke jurang krisis ekonomi. Sebuah tulisan di newsweek mengungkapkan bagaimana 'American dream' berubah menjadi resesi dunia (disini). Bagaimana hal ini terjadi? Konon di Amerika sono, persepsi kemapanan bagi masyarakat adalah masyarakat yang memiliki rumah dan fortofolio saham. Bagi negara yang pasar keuangannya sudah berkembang tidak mengherankan jika setiap orang mempunyai berinvestasi di saham. Demikian pula dengan rumah, kepemilikannya menggambarkan suatu ide dimana didalamnya hidup keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Sampai disini mimpi ini menjadi bagian yang wajar dari suatu masyarakat. Yang menjadi tidak wajar kemudian ketika dorongan memiliki rumah difasilitasi oleh kemudahan yang justru beresiko terhadap kredit macet di masa depan. Misalnya pemerintah mendorong inisiatif 'zero down-payment' untuk memudahkan warga negara memiliki rumah. Tidak hanya itu, peminjam juga dibebaskan membayar angsuran sampai 2 tahun pertama. Selanjutnya, instrumen KPR ala Amerika ini kemudian dibungkus sedemikian rupa menjadi instrumen turunan yang kemudian kita tahu menyebabkan kolaps-nya industri keuangan dunia.

Kepemilikan aset menurut kapitalisme merupakan syarat bagi kemajuan dan kekayaan. Hal ini sudah terbukti, namun gairah memiliki dalam kasus ini ternyata menimbulkan biaya yang harus ditanggung masyarakat secara keseluruhan. Peminjam-peminjam yang sesungguhnya tidak eligible justru mendapatkan pinjaman untuk memperoleh rumah. Ketika krisis, merekalah yang tidak mampu membayar dan memperparah krisis.

Kepemilikan individu ternyata juga menjadi problem pada kasus yang lain (disini). Di China, saking kecilnya tanah yang dibagikan oleh pemerintah dalam program land reform 30 tahun yang lalu, menunjukkan ketidakpuasan karena tanah pertanian terlalu kecil untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan dan kedua, ketimpangan pendapatan memperlihatkan wilayah pedesaan seperti ditinggalkan oleh kemapanan.

Pelajaran seperti apa yang bisa diambil Indonesia? Gairah kepemilikan mulai tumbuh disini. Bagi orang kebanyakan khususnya di perkotaan, kepemilikan kendaraan bermotor adalah nilai kemapanan. Tidak mengherankan kredit motor demikian mudahnya dan disinyalir bisa menjadi krisis sub-prime mortgage ala Indonesia. Selain itu 'Mimpi' kaum urban mengenai kemapanan adalah kepemilikan kendaraan (disini); entah ini mimpi penguasa atau benar-benar mewakili mimpi orang Indonesia? Setidaknya fenomena mudik bermotor menunjukkan kemapanan yang sejalan dengan kepemilikan kendaraan (disini).

3 comments:

waw said...

Ulasan yang menarik.. bs jadi bahan renungan..

dexzrecc said...

bukan hanya mobil di desa baju pun juga ada yang di kredit

Sobirin Nur said...

Dengan BBM yang mahal dan biaya transportasi yang ikutan mahal, berpergian dengan kendaraan pribadi adalah suatu pilihan yang menarik. Kendaraan pribadi yang paling murah adalah sepeda motor.