Oct 15, 2008

New wave of land individualization

In recent days, authority in China had pledge a new policy related to land reform (here). It has been 30 years ago, the government allowed individual families to farm in the state land under 30 years government contract without allowing them to transfer or rent out the lease to other families. In fact the land was rent out to other families under informal arrangement and many farmers went to city to find better livelihood and incomes. The land was so small (around 0.67 hectares) which raised the sense of inefficiency when farmers work on the plot.

The new proposed policy will allow the farmers to trade, rent or mortgage their land for profit. Is socialist China becomes more capitalist with this new policy? In a country where a poverty becomes a problem, access to land needs to be structured first.

What happened in China would be in line with current trend worldwide that is the breakdown of communal land. The idea was replaced by individualization where private ownership is perceived as a way to a more prosperous society. Private ownership is more secure than of communal property.

Similarly happened in Indonesia where there are still many communities live in rural/remote areas. Most of them still hold beliefs on their own traditional values which are site-specific and unique. The values control their life, the relationship among communities, among human-God and among human-resources-God.

The access to land is one of the form of relationship where the land belongs to communal society, the private property is not really recognized. All the member of society can make use of resources together with some rules and institutional arrangement among them. This would prevent ‘Hardin’s Tragedy of Common’ happened.

This is my research in Tanimbar Island where communal property being broken down as local government persuade them to sell the land with some compensation. Not only that, the town nearby is growing so it attracts more villagers to find new livelihoods which give them more opportunity for improving their life. The farming way of life becomes obsolete as only older generation who are still involved in that activity. Only small number of young generation maintain their livelihood from agriculture.

So the issue of land accumulation for agrarian purpose (case in China) or non-agrarian purpose (in the case of Tanimbar Island, the agriculture land converted into government building) are really threaten people’s livelihood which then might drag people into poverty. The access to land in rural areas are still important though it is not profitable enough. The strategy to address this, farmers need to diversity their livelihood as to diversify risk from farming. Local banks need to disbuse credit for farmers since many of them lack of credit because lack of collateral. So the last is structuring land access by proper certification would open more opportunities for farmers.

note: this post is contributed to Blog Action Day 2008

Oct 12, 2008

Krisis yang dibakar api kemapanan

Kita mungkin tidak pernah mengira persepsi mengenai kemapanan bisa menarik ke jurang krisis ekonomi. Sebuah tulisan di newsweek mengungkapkan bagaimana 'American dream' berubah menjadi resesi dunia (disini). Bagaimana hal ini terjadi? Konon di Amerika sono, persepsi kemapanan bagi masyarakat adalah masyarakat yang memiliki rumah dan fortofolio saham. Bagi negara yang pasar keuangannya sudah berkembang tidak mengherankan jika setiap orang mempunyai berinvestasi di saham. Demikian pula dengan rumah, kepemilikannya menggambarkan suatu ide dimana didalamnya hidup keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Sampai disini mimpi ini menjadi bagian yang wajar dari suatu masyarakat. Yang menjadi tidak wajar kemudian ketika dorongan memiliki rumah difasilitasi oleh kemudahan yang justru beresiko terhadap kredit macet di masa depan. Misalnya pemerintah mendorong inisiatif 'zero down-payment' untuk memudahkan warga negara memiliki rumah. Tidak hanya itu, peminjam juga dibebaskan membayar angsuran sampai 2 tahun pertama. Selanjutnya, instrumen KPR ala Amerika ini kemudian dibungkus sedemikian rupa menjadi instrumen turunan yang kemudian kita tahu menyebabkan kolaps-nya industri keuangan dunia.

Kepemilikan aset menurut kapitalisme merupakan syarat bagi kemajuan dan kekayaan. Hal ini sudah terbukti, namun gairah memiliki dalam kasus ini ternyata menimbulkan biaya yang harus ditanggung masyarakat secara keseluruhan. Peminjam-peminjam yang sesungguhnya tidak eligible justru mendapatkan pinjaman untuk memperoleh rumah. Ketika krisis, merekalah yang tidak mampu membayar dan memperparah krisis.

Kepemilikan individu ternyata juga menjadi problem pada kasus yang lain (disini). Di China, saking kecilnya tanah yang dibagikan oleh pemerintah dalam program land reform 30 tahun yang lalu, menunjukkan ketidakpuasan karena tanah pertanian terlalu kecil untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan dan kedua, ketimpangan pendapatan memperlihatkan wilayah pedesaan seperti ditinggalkan oleh kemapanan.

Pelajaran seperti apa yang bisa diambil Indonesia? Gairah kepemilikan mulai tumbuh disini. Bagi orang kebanyakan khususnya di perkotaan, kepemilikan kendaraan bermotor adalah nilai kemapanan. Tidak mengherankan kredit motor demikian mudahnya dan disinyalir bisa menjadi krisis sub-prime mortgage ala Indonesia. Selain itu 'Mimpi' kaum urban mengenai kemapanan adalah kepemilikan kendaraan (disini); entah ini mimpi penguasa atau benar-benar mewakili mimpi orang Indonesia? Setidaknya fenomena mudik bermotor menunjukkan kemapanan yang sejalan dengan kepemilikan kendaraan (disini).

Oct 1, 2008

Sopir taksi bicara inflasi

Pembicaraan mengenai inflasi secara tak sengaja terjadi di dalam taksi dari Bandara Juanda ke rumah istri saya di Tandes. Pembicaraan ini bermula ketika saya menanyakan kewajaran tarif taksi bandara. Tahun 2004, saya naik taksi ke alamat yang sama hanya Rp 40.ooo; sedangkan saat ini tarifnya naik mencapai Rp 114.000. Kurang lebih ada kenaikan tarif sekitar 30 persen.

Sang sopir taksi kemudian menjelaskan kenapa tarif saat ini demikian tinggi. Katanya, tahun 2004 bensin masih dibawah 2.000-an sementara saat ini bensin sudah 3 kalinya Rp 6000. Jadi wajar saja kalau tarif taksi naik mengikuti kenaikan harga bensin.

Mari kita lihat data BPS disini
1. inflasi year on year Maret 2005 terhadap Maret 2004 = 8,81%
2. inflasi year on year November 2006 terhadap November 2005 = 5,92%
3. ....2007 terhadap ..... 2006 = missing
4. inflasi year on year Juni 2008 terhadap Juni 2007 = 11,03%

kalau kita jumlahkan inflasi dari tahun 2004 - 2008 sekitar 25,7%; berarti kalau ditambahkan dengan data yang missing di tahun 2007, tampaknya argumen sang sopir taksi mengenai tarif saat ini masih masuk akal. Tentunya komponen kenaikan BBM telah diperhitungkan dalam menghitung pergerakan inflasi bulanan maupun yoy.

Yang hebat sesungguhnya sopir taksi yang bicara inflasi tanpa perlu melihat detil data, cukup 1 indikator saja harga BBM.

Review Laskar Pelangi: The Movie


Film yang ditunggu-tunggu pembaca karya Andrea Hirata ‘Laskar Pelangi’ akhirnya tayang di layar lebar sejak 25 September 2008 (disini). Konon, bioskop di seputaran Jakarta penuh sesak penonton yang ingin menyaksikan sebuah novel laris yang difilm-kan.

Kesempatan menonton film itu akhirnya datang juga. Memanfaatkan momen lebaran, setelah silaturahmi saya, istri serta anak semata wayang, Narendra menonton ‘Laskar Pelangi’ di Sutos (Surabaya Town Square) Cinema XXI. Lebaran di bioskop ternyata menyenangkan juga karena penontonnya tidak terlalu banyak, saya hitung sekitar 30-an orang. Konsekuensinya HTM-nya agak sedikit mahal dibandingkan hari biasa (Senin-Jumat)

Saya dan Fajar memang menyiapkan diri secara khusus terutama ketika mendengar film-nya akan tayang akhir September. Walaupun agak telat, kami pun membeli buku Laskar Pelangi. Saya sendiri belum sempat menyelesaikan seluruh bab, sedangkan Fajar sudah menamatkan buku itu dalam waktu seminggu. Well, berbekal istri yang sudah menamatkan ‘Laskar Pelangi’ dan saya yang lebih penasaran dengan film-nya; seperti bertemu tumbu dengan tutupnya.

Dari film yang diproduksi Mira Lesmana (Miles) tersebut, istri saya melihat beberapa kelemahan jika dibandingkan dengan versi novelnya. Menurut dia, sekuen waktu yang tergambar dalam buku tidak diikuti didalam film, misalnya adegan ketika Lintang melintasi sarang buaya dalam perjalanan menuju pertandingan cerdas cermat, sedangkan versi buku menggambarkan kejadian tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa suatu hari Lintang datang ke sekolah ketika pelajaran hampir berakhir. Contoh kedua, adegan pertandingan cerdas cermat terjadi pada masa sekolah dasar, sedangkan di dalam novelnya, cerdas cermat terjadi pada masa SMP.

Hal lainnya yang kurang menggelegar adalah ketika adegan tarian dalam karnawal, dimana seharusnya diikuti tidak hanya oleh 10 laskar pelangi tetapi juga adik-adik kelasnya yang berperan sebagai penggembala. Pertunjukan karya Mahar itu seharusnya terlihat kolosal. Satu lagi, didalam novel tidak satupun disebut mengenai meninggalnya Pak Harfan, sang Kepala Sekolah atau munculnya tokoh ‘Lani’ yang menghancurkan hati Ikal sewaktu membeli kapur. Ikal justru mengharapkan kemunculan ‘Aling’ yang pada saat itu sudah dikirim ke Jakarta menemani orangtuanya. Di dalam novel, tokoh ‘Lani’ tidak ada, justru pengganti Aling adalah seorang laki-laki.

Bagi saya yang belum selesai membaca novelnya, ada adegan yang serasa kurang nyambung dengan adegan sebelumnya atau sesudahnya. Adegan Flo menghilang di rawa sepertinya muncul tiba-tiba tanpa ada keterkaitan dengan adegan berikutnya. Istri saya menambahkan, didalam novel Flo hilang ketika berdarmawisata dan berhasil ditemukan oleh kelompok yang dipimpin Mahar (ini menjelaskan kenapa ketika Flo pindah sekolah, dia duduk sebangku dengan Mahar).

Saya sendiri agak berbeda pendapat, dalam hal menyampaikan pesan mengenai pentingnya pendidikan, sikap pantang menyerah, kekuatan mimpi/cita-cita, saya melihat film ini bisa menyampaikannya dengan cukup baik. Ditambah lagi, pesan mengenai kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan sangat mudah dirasakan secara visual dibandingkan penggambaran tertulis di dalam novel. Saya harus mengakui penggambaran isu-isu ini di dalam novelpun cukup baik, namun untuk kalangan yang lebih luas penggambaran visual didalam film ini cukup mengaduk-aduk perasaan. Bagaimana adegan demi adegan disusun untuk menggambarkan kondisi di SD Muhamadiyah dengan SD PN Timah seperti bumi dan langit, pesan seperti inilah tampaknya yang hendak ditonjolkan dalam film ini.

Seperti juga dalam film-film yang mengeksplorasi alam bebas, film ini cukup kuat menggambarkan keindahan alam Pulau Belitung dari padang savanna hingga pantai berbatu yang indah. Film ini juga meng-eksploitasi dengan cukup baik adegan-adegan ketika para aktor menaiki sepedanya. Tidak heran dari awal hingga akhir, elemen sepeda tidak bisa dilepaskan dari film ini.

Akhirnya dalam debat sepanjang perjalanan pulang dari bioskop, saya menyimpulkan bahwa tidak mungkin menuangkan seluruh halaman novel (534 halaman) ke dalam scene berdurasi 2,5 jam. Alhasil beberapa adegan pendukung memang tampak seperti pendukung saja tanpa bisa memperkuat plot utamanya. Anyway, saya tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton khususnya untuk mengingatkan cita-cita masa kecil yang terlupakan dan pentingnya pendidikan bagi tiap warga negara di Indonesia.

Akhirnya bagi yang belum menonton: Selamat Menonton!

sinopsis laskar pelangi bisa dibaca disini, disini, Sastra Belitong