Sep 26, 2008

license to operate

Dalam sebuah meeting dengan BUMN pertambangan ternama, salah satu staf BUMN tersebut mengemukakan perlunya ‘license to operate’ melalui kegiatan-kegiatan CSR. Mendengar kata ‘license to operate’ saya teringat kisah seorang kolega, warga negara Amerika – veteran perang Vietnam yang menghabiskan hidupnya di Thailand, yang saat ini aktif sebagai trainer dan fasilitator di isu-isu capacity building untuk pembangunan berkelanjutan. Kolega ini menceritakan bagaimana pada masa perang Vietnam, armada udara Amerika harus diterbangkan dari pedalaman Thailand puluhan pesawat setiap hari selama 24 jam. Membayangkan operasi yang sama di bandara, kebisingan yang ditimbulkan tentu sangat tinggi dan bisa mengganggu warga sekitar. Nah, kolega saya ini bertugas membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar untuk mendapatkan ‘license to operate’. Pelajaran yang saya peroleh adalah, konsep social responsibility itu ternyata tidak melulu berlaku di sektor ekstraktif seperti pertambangan maupun kehutanan. Tanggung jawab sosial merupakan ekspresi terhadap kebutuhan dan keprihatinan para stakeholder. Dan dalam kasus kolega saya itu, masyarakat disekitar airbase cukup menerima karena keberadaan serdadu Amerika ikut mendukung perekonomian setempat disamping masyarakat diberi bantuan sembako pada waktu-waktu tertentu.

No comments: