Sep 26, 2008

license to operate

Dalam sebuah meeting dengan BUMN pertambangan ternama, salah satu staf BUMN tersebut mengemukakan perlunya ‘license to operate’ melalui kegiatan-kegiatan CSR. Mendengar kata ‘license to operate’ saya teringat kisah seorang kolega, warga negara Amerika – veteran perang Vietnam yang menghabiskan hidupnya di Thailand, yang saat ini aktif sebagai trainer dan fasilitator di isu-isu capacity building untuk pembangunan berkelanjutan. Kolega ini menceritakan bagaimana pada masa perang Vietnam, armada udara Amerika harus diterbangkan dari pedalaman Thailand puluhan pesawat setiap hari selama 24 jam. Membayangkan operasi yang sama di bandara, kebisingan yang ditimbulkan tentu sangat tinggi dan bisa mengganggu warga sekitar. Nah, kolega saya ini bertugas membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar untuk mendapatkan ‘license to operate’. Pelajaran yang saya peroleh adalah, konsep social responsibility itu ternyata tidak melulu berlaku di sektor ekstraktif seperti pertambangan maupun kehutanan. Tanggung jawab sosial merupakan ekspresi terhadap kebutuhan dan keprihatinan para stakeholder. Dan dalam kasus kolega saya itu, masyarakat disekitar airbase cukup menerima karena keberadaan serdadu Amerika ikut mendukung perekonomian setempat disamping masyarakat diberi bantuan sembako pada waktu-waktu tertentu.

Sep 13, 2008

Heboh daging sampah: berantas kemiskinan!

Tiba-tiba kita dikejutkan dengan beredarnya daging sampah. Daging sampah itu konon kabarnya merupakan limbah dari industry perhotelan yang kemudian dikumpulkan pemulung dan oleh pemulung kemudian disalurkan ke pengumpul dan dibeli oleh pedagang yang selanjutnya dijual kembali kepada konsumen.

 

Huh..akan jadi seperti apa ya bangsa ini kalau masyarakat kita mengkonsumsi makanan yang sudah menjadi ‘sampah’. Dari sisi kesehatan, makanan sampah jelas membahayakan. Disisi ekonomi, perilaku masyarakat kita sangat sensitive terhadap variable harga sehingga jika ada dua barang identik dengan salah satu barang harganya lebih murah, maka konsumen cenderung memilih produk dengan harga yang lebih murah. Sayangnya, pertimbangan kesehatan dan kualitas masih menjadi prioritas ke-sekian. Kondisi demikian, saya meyakini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun ditambah adanya tren inflasi pasca kenaikan bahan bakar minyak lalu dan memasuki bulan ramadhan.

 

Menurut catatan BPS, inflasi bulan agustus 2008 dari kelompok pengeluaran bahan makanan menunjukkan kenaikan 0,94% dibandingkan bulan Juli 2008. Sementara laju inflasi berjalan dalam tahun 2008 mencapai 13,5%, sedangkan inflasi year on year (yoy) dibandingkan bulan Agustus 2008, jauh lebih tinggi lagi mencapai 20,08%. Besaran kontribusi pengeluaran bahan makanan didalam inflasi secara umum cukup tinggi, bahkan inflasi umum relative lebih rendah misalnya laju inflasi selama tahun 2008 mencapai 9,4%.

 

Bandingkan juga daya beli masyarakat di tingkat bawah. Masih menurut BPS, upah buruh industry nominal menunjukkan kenaikan 11,72% (yoy) atau triwulan I-2008 mencapai Rp 1,124 juta/bulan. Nah, kenaikan upah nominal ini ternyata tidak mampu mengejar inflasi, katakan saja dari komponen makanan sudah mencapai 13,5%. Tidak hanya itu, penurunan upah riil buruh bangunan sebesar 0,14% menunjukkan daya beli masyarakat yang mengalami penurunan.

 

Lalu semakin masuk akal, kemunculan daging sampah di pasar disebabkan adanya permintaan masyarakat. Namun, proses ini bisa berjalan sebaliknya. Dalam keyakinan ekonomi pasar, terdapat adagium ‘supply creates its own demand’. Ada kemungkinan, awalnya pedagang ‘nakal’ cuma mencoba-coba mendistribusikan daging sampah, tetapi  kemudian berlanjut karena terbentuk permintaan pada segmen masyarakat tertentu.

 

Dalam hal ini pemerintah harus melakukan dua hal, pertama meningkatkan daya beli masyarakat dengan penciptaan lapangan kerja secara luas. Hal ini diharapkan akan mengurangi kemiskinan. Kedua, melakukan pengawasan terhadap pelaku pasar untuk menjamin hak konsumen dalam mendapatkan produk yang aman dan sesuai standar kesehatan. Langkah kedua sudah mulai dilakukan, yang pertama.. masih jauh.