Jun 13, 2008

famine and Malthus's population check

Ada 2 artikel menarik di the economist, yang pertama (tentang teori Malthus) dan yang kedua (tentang kelaparan di Ethiopia). Menarik karena keduanya menyoroti mengenai penyebab kelaparan dari sisi yang berbeda. Argumentasi Malthus yang terkenal yaitu overpopulasi akan mengalahkan produksi makanan, dimana daya dukung lingkungan tidak mampu 'memberi makan' populasi yang ada sehingga penduduk berkompetisi mendapatkan makanan. Ada yang dapat, lalu yang tidak dapat menderita kelaparan. Solusi ala Malthus adalah pembatasan jumlah penduduk.

Pendapat Malthus seringkali kita dengar namun jika melihat beberapa kondisi empiris, tampaknya pembatasan penduduk tidak selalu menjawab problem kelaparan di berbagai tempat. Salah satunya seperti di artikel kedua (disini). Perubahan iklim, buruknya iklim investasi khususnya di sektor pertanian, dan governance yang buruk melipatgandakan dampak kekeringan menjadi kelaparan. Selain itu, persoalan struktural seperti ketiadaan akses terhadap lahan pertanian memberikan kontribusi yang signifikan terhadap transformasi kekurangan makanan menjadi bencana kelaparan. Lalu kalau menggunakan solusi pembatasan penduduk, yang seperti apa? tanpa pembatasan pun, bencana kelaparan akhirnya menjadi pembatas penduduk alamiah, bukan? Mungkin ada pula pengambil kebijakan yang secara 'tidak sadar' menunda pengiriman bantuan bagi korban bencana yang akhirnya menambah jumlah korban jiwa. Mereka ini secara 'tidak sadar' meyakini bahwa jumlah penduduk adalah problem. Sayangnya walaupun jumlah penduduk merupakan problem namun menyelesaikan persoalan tersebut dengan kacamata 'Malthus' tapi tidak selalu tepat dalam situasi seperti ini.

Tentang kritik terhadap Malthus bisa dibaca disini

No comments: