Jun 13, 2008

famine and Malthus's population check

Ada 2 artikel menarik di the economist, yang pertama (tentang teori Malthus) dan yang kedua (tentang kelaparan di Ethiopia). Menarik karena keduanya menyoroti mengenai penyebab kelaparan dari sisi yang berbeda. Argumentasi Malthus yang terkenal yaitu overpopulasi akan mengalahkan produksi makanan, dimana daya dukung lingkungan tidak mampu 'memberi makan' populasi yang ada sehingga penduduk berkompetisi mendapatkan makanan. Ada yang dapat, lalu yang tidak dapat menderita kelaparan. Solusi ala Malthus adalah pembatasan jumlah penduduk.

Pendapat Malthus seringkali kita dengar namun jika melihat beberapa kondisi empiris, tampaknya pembatasan penduduk tidak selalu menjawab problem kelaparan di berbagai tempat. Salah satunya seperti di artikel kedua (disini). Perubahan iklim, buruknya iklim investasi khususnya di sektor pertanian, dan governance yang buruk melipatgandakan dampak kekeringan menjadi kelaparan. Selain itu, persoalan struktural seperti ketiadaan akses terhadap lahan pertanian memberikan kontribusi yang signifikan terhadap transformasi kekurangan makanan menjadi bencana kelaparan. Lalu kalau menggunakan solusi pembatasan penduduk, yang seperti apa? tanpa pembatasan pun, bencana kelaparan akhirnya menjadi pembatas penduduk alamiah, bukan? Mungkin ada pula pengambil kebijakan yang secara 'tidak sadar' menunda pengiriman bantuan bagi korban bencana yang akhirnya menambah jumlah korban jiwa. Mereka ini secara 'tidak sadar' meyakini bahwa jumlah penduduk adalah problem. Sayangnya walaupun jumlah penduduk merupakan problem namun menyelesaikan persoalan tersebut dengan kacamata 'Malthus' tapi tidak selalu tepat dalam situasi seperti ini.

Tentang kritik terhadap Malthus bisa dibaca disini

Jun 8, 2008

Piala eropa yang menyesakkan

Malam tadi, Piala Eropa dibuka dengan opening ceremony yang meriah dan disiarkan setidaknya di tiga stasiun TV nasional. Ada yang menyesakkan ketika melihat bagaimana opening ceremony dipertontonkan. Saya teringat bagaimana kemeriahan yang berbeda terasa ketika Jakarta menjadi tuan rumah sebuah event olah raga internasiona, Thomas and Uber Cup 2008. Seingat saya tidak ada opening ceremony yang demikian menggelegar, hanya beberapa iklan layanan dari televisi swasta yang menjadi salah satu sponsor even tersebut.
Acara malam tadi demikian menyesakkan bukan karena orang dilarang mendukung kesebelasan tim negara lain namun ekspresi yang sama sayangnya tidak ditunjukkan ketika tim Indonesia dari cabang olah raga apapun berlaga di even internasional. Lalu, presenter dan pengisi acara dengan bangga memakai kostum negara peserta piala eropa termasuk atribut bendera juga dikibarkan penonton. Pertanyaannya apakah sedemikian mindernya kita hingga kita menjadi bangga dengan mengibarkan bendera negara lain?

Jun 4, 2008

BLT dan gender inequality

Akhirnya harga BBM naik dengan didukung dalih pemerintah yang memberikan bantuan langsung tunai (BLT) sebagai upaya mengurangi dampak bagi kelompok masyarakat yang miskin dan hampir miskin. Ada yang dilupakan dari kebijakan ini, yaitu dampaknya kepada keadilan gender. Kenapa isu ini menjadi penting? Tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan gender masih membelit masyarakat kita. Isu gender sering kali hanya dipahami sebagai emansipasi wanita, parahnya pada sebagian masyarakat contohnya 'kelompok' dalam agama menolak dengan kencang isu-isu gender bahkan membuat penghakiman yang tidak perlu terhadap elemen-elemen pendorong keadilan gender (ini kasus nyata di kelompok pengajian di kompleks saya).
Sayangnya fakta di lapangan, ketidakadilan gender ini masih terus terjadi. apalagi dengan BLT yang dikeluarkan tanpa memperhitungkan dampak terhadap relasi gender, mengakibatkan kelompok perempuan dan anak-anak yang semakin menderita.
Pandangan sebagian kita bahwa laki-laki adalah bread-winner, pembawa penghasilan ke dalam rumah tangga menyebabkan keputusan dalam rumah tangga dibuat oleh laki-laki yang dianggap paling bertanggung jawab dalam keluarga. Tengok saja gambar-gamber berikut:

















  • siapa yang mengantri BLT? yap.. perempuan dan anak-anak
  • kemana laki-laki? tentu saja bekerja, mereka kan 'kepala keluarga'
  • siapa yang menikmati BLT? tergantung apa kata kepala keluarga (laki-laki). bisa jadi dibelikan rokok tambahan karena pendapatan pasca BLT relatif meningkat
  • bagaimana nasib anak-anak dan perempuan? ya.. tergantung apa kata kepala keluarga. Tidak ada jaminan alokasi makanan-pun bertambah setelah mendapat BLT. bisa-bisa semakin berkurang karena laki-laki sebagai kepala keluarga meminta porsi lebih banyak karena 'sekali lagi' dia kepala keluarga.

Nah dengan kondisi seperti ini apa iya BLT akan memperbaiki kesejahteraan ibu (perempuan) dan anak? Conditional cash transfer atau nama kerennya PKH (program keluarga harapan) seharusnya diperluas cakupannya. Saat diluncurkan baru tujuh provinsi dengan cakupan kurang lebih 500.000 keluarga miskin. Dulu cuma 27 provinsi, sekarang sudah berapa provinsi ya?