Jan 18, 2008

Orang kaya=Orang penderma

Pandangan kita sering keliru menyangka orang kaya itu kurang berderma. Tidak juga, mungkin beberapa kasus statemen ini benar tapi di kasus yang lain orang kaya justru yang paling berderma tanpa perlu berteriak-teriak. Dalam ajaran Islam, tangan kanan berbuat baik jangan sampai diketahui oleh tangan kiri. Ada lagi, tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.

Link berikut menjelaskan betapa orang kaya juga rajin berderma. Menariknya, orang paling kaya di Indonesia ternyata paling banyak berderma. Para penderma (philantrophist) tersebut disusun berdasarkan kontribusi dalam aspek sosial termasuk pendidikan, kesehatan, olah raga, kesenian dan juga bantuan terhadap bencana alam. Mungkin ini menjadi jawaban kenapa Abu Rizal Bakri termasuk orang yang paling berderma, karena bencana Lapindo dimana dia 'diduga' berada dibelakang Lapindo ketika bencana itu terjadi dan sekaligus ikut bertanggung jawab kepada korban. Tapi apakah itu cukup adil bagi korban bencana dan lingkungan yang menjadi rusak?

Jan 17, 2008

Iklim buruk investasi migas

Ini oleh-oleh dari menghadiri seminar dengan pembicara Kurtubi, pakar perminyakan nasional. Topiknya tidak jauh seputaran dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional. Pertanyaan mendasarnya kenapa Indonesia gagal mengambil manfaat dari kenaikan harga minyak seperti pernah terjadi di era 70-an? Dari diskusi tersebut bila dirunut terungkap perubahan kebijakan neoliberal pada industri migas berdampak terhadap ketidakpastian berinvestasi.

Salah satu poin penting adalah kondisi Indonesia saat ini sebagai net importer disebabkan oleh permintaan dalam negeri yang lebih besar dari produksi per tahunnya. Alhasil kekurangannya dicarikan dari sumber impor. Pertanyaan kenapa supply lebih kecil dapat dijawab dengan tidak ditemukannya sumber-sumber minyak baru selama kurun 8 tahun terakhir (2001-2008) sehingga produksi aktual hanya mengandalkan lapangan lama yang marginal produktivity-nya dipastikan sudah menurun. Pertanyaan selanjutnya kenapa tidak ada upaya ekplorasi sumur-sumur minyak baru? Penyebabnya diantaranya ketidakpastian investasi dan perubahan kebijakan perminyakan dengan dikeluarkannya UU migas no 22/2001.

Dalam UU tersebut, Pertamina tidak lagi menjadi pemain tunggal dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak. Sebagai gantinya dibentuk badan pelaksana (BP migas) yang dibentuk untuk melakukan pengendalian kegiatan usaha hulu di bidang minyak dan gas bumi. Implikasi yang juga diatur dalam UU tersebut Pertamina tidak lagi berdiri sendiri tetapi harus melakukan kontrak kerja sama dengan badan pelaksana untuk melanjutkan kegiatannya pada wilayah kuasa pertambangannya. Dengan kata lain, badan pelaksana-lah yang menjadi 'pintu' kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas termasuk mengelola penerimaan sektor migas dalam bentuk kontrak bagi hasil-production sharing contract. Sementara Pertamina dan perusahaan perminyakan lainnya harus mengikuti 'rule of play' dari badan pelaksana.

Salah satu implikasi buruk dari UU tersebut adalah ketentuan perpajakan pada kegiatan eksplorasi, padahal tahap ini tingkat keberhasilannya belum pasti. Selain itu otonomi daerah ikut memperburuk citra investasi dengan semakin banyaknya meja yang harus dilalui dalam prosedur investasi. Tau sendiri dong, banyak meja artinya apa? (bersambung)