Oct 15, 2008

New wave of land individualization

In recent days, authority in China had pledge a new policy related to land reform (here). It has been 30 years ago, the government allowed individual families to farm in the state land under 30 years government contract without allowing them to transfer or rent out the lease to other families. In fact the land was rent out to other families under informal arrangement and many farmers went to city to find better livelihood and incomes. The land was so small (around 0.67 hectares) which raised the sense of inefficiency when farmers work on the plot.

The new proposed policy will allow the farmers to trade, rent or mortgage their land for profit. Is socialist China becomes more capitalist with this new policy? In a country where a poverty becomes a problem, access to land needs to be structured first.

What happened in China would be in line with current trend worldwide that is the breakdown of communal land. The idea was replaced by individualization where private ownership is perceived as a way to a more prosperous society. Private ownership is more secure than of communal property.

Similarly happened in Indonesia where there are still many communities live in rural/remote areas. Most of them still hold beliefs on their own traditional values which are site-specific and unique. The values control their life, the relationship among communities, among human-God and among human-resources-God.

The access to land is one of the form of relationship where the land belongs to communal society, the private property is not really recognized. All the member of society can make use of resources together with some rules and institutional arrangement among them. This would prevent ‘Hardin’s Tragedy of Common’ happened.

This is my research in Tanimbar Island where communal property being broken down as local government persuade them to sell the land with some compensation. Not only that, the town nearby is growing so it attracts more villagers to find new livelihoods which give them more opportunity for improving their life. The farming way of life becomes obsolete as only older generation who are still involved in that activity. Only small number of young generation maintain their livelihood from agriculture.

So the issue of land accumulation for agrarian purpose (case in China) or non-agrarian purpose (in the case of Tanimbar Island, the agriculture land converted into government building) are really threaten people’s livelihood which then might drag people into poverty. The access to land in rural areas are still important though it is not profitable enough. The strategy to address this, farmers need to diversity their livelihood as to diversify risk from farming. Local banks need to disbuse credit for farmers since many of them lack of credit because lack of collateral. So the last is structuring land access by proper certification would open more opportunities for farmers.

note: this post is contributed to Blog Action Day 2008

Oct 12, 2008

Krisis yang dibakar api kemapanan

Kita mungkin tidak pernah mengira persepsi mengenai kemapanan bisa menarik ke jurang krisis ekonomi. Sebuah tulisan di newsweek mengungkapkan bagaimana 'American dream' berubah menjadi resesi dunia (disini). Bagaimana hal ini terjadi? Konon di Amerika sono, persepsi kemapanan bagi masyarakat adalah masyarakat yang memiliki rumah dan fortofolio saham. Bagi negara yang pasar keuangannya sudah berkembang tidak mengherankan jika setiap orang mempunyai berinvestasi di saham. Demikian pula dengan rumah, kepemilikannya menggambarkan suatu ide dimana didalamnya hidup keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Sampai disini mimpi ini menjadi bagian yang wajar dari suatu masyarakat. Yang menjadi tidak wajar kemudian ketika dorongan memiliki rumah difasilitasi oleh kemudahan yang justru beresiko terhadap kredit macet di masa depan. Misalnya pemerintah mendorong inisiatif 'zero down-payment' untuk memudahkan warga negara memiliki rumah. Tidak hanya itu, peminjam juga dibebaskan membayar angsuran sampai 2 tahun pertama. Selanjutnya, instrumen KPR ala Amerika ini kemudian dibungkus sedemikian rupa menjadi instrumen turunan yang kemudian kita tahu menyebabkan kolaps-nya industri keuangan dunia.

Kepemilikan aset menurut kapitalisme merupakan syarat bagi kemajuan dan kekayaan. Hal ini sudah terbukti, namun gairah memiliki dalam kasus ini ternyata menimbulkan biaya yang harus ditanggung masyarakat secara keseluruhan. Peminjam-peminjam yang sesungguhnya tidak eligible justru mendapatkan pinjaman untuk memperoleh rumah. Ketika krisis, merekalah yang tidak mampu membayar dan memperparah krisis.

Kepemilikan individu ternyata juga menjadi problem pada kasus yang lain (disini). Di China, saking kecilnya tanah yang dibagikan oleh pemerintah dalam program land reform 30 tahun yang lalu, menunjukkan ketidakpuasan karena tanah pertanian terlalu kecil untuk mendapatkan keuntungan yang signifikan dan kedua, ketimpangan pendapatan memperlihatkan wilayah pedesaan seperti ditinggalkan oleh kemapanan.

Pelajaran seperti apa yang bisa diambil Indonesia? Gairah kepemilikan mulai tumbuh disini. Bagi orang kebanyakan khususnya di perkotaan, kepemilikan kendaraan bermotor adalah nilai kemapanan. Tidak mengherankan kredit motor demikian mudahnya dan disinyalir bisa menjadi krisis sub-prime mortgage ala Indonesia. Selain itu 'Mimpi' kaum urban mengenai kemapanan adalah kepemilikan kendaraan (disini); entah ini mimpi penguasa atau benar-benar mewakili mimpi orang Indonesia? Setidaknya fenomena mudik bermotor menunjukkan kemapanan yang sejalan dengan kepemilikan kendaraan (disini).

Oct 1, 2008

Sopir taksi bicara inflasi

Pembicaraan mengenai inflasi secara tak sengaja terjadi di dalam taksi dari Bandara Juanda ke rumah istri saya di Tandes. Pembicaraan ini bermula ketika saya menanyakan kewajaran tarif taksi bandara. Tahun 2004, saya naik taksi ke alamat yang sama hanya Rp 40.ooo; sedangkan saat ini tarifnya naik mencapai Rp 114.000. Kurang lebih ada kenaikan tarif sekitar 30 persen.

Sang sopir taksi kemudian menjelaskan kenapa tarif saat ini demikian tinggi. Katanya, tahun 2004 bensin masih dibawah 2.000-an sementara saat ini bensin sudah 3 kalinya Rp 6000. Jadi wajar saja kalau tarif taksi naik mengikuti kenaikan harga bensin.

Mari kita lihat data BPS disini
1. inflasi year on year Maret 2005 terhadap Maret 2004 = 8,81%
2. inflasi year on year November 2006 terhadap November 2005 = 5,92%
3. ....2007 terhadap ..... 2006 = missing
4. inflasi year on year Juni 2008 terhadap Juni 2007 = 11,03%

kalau kita jumlahkan inflasi dari tahun 2004 - 2008 sekitar 25,7%; berarti kalau ditambahkan dengan data yang missing di tahun 2007, tampaknya argumen sang sopir taksi mengenai tarif saat ini masih masuk akal. Tentunya komponen kenaikan BBM telah diperhitungkan dalam menghitung pergerakan inflasi bulanan maupun yoy.

Yang hebat sesungguhnya sopir taksi yang bicara inflasi tanpa perlu melihat detil data, cukup 1 indikator saja harga BBM.

Review Laskar Pelangi: The Movie


Film yang ditunggu-tunggu pembaca karya Andrea Hirata ‘Laskar Pelangi’ akhirnya tayang di layar lebar sejak 25 September 2008 (disini). Konon, bioskop di seputaran Jakarta penuh sesak penonton yang ingin menyaksikan sebuah novel laris yang difilm-kan.

Kesempatan menonton film itu akhirnya datang juga. Memanfaatkan momen lebaran, setelah silaturahmi saya, istri serta anak semata wayang, Narendra menonton ‘Laskar Pelangi’ di Sutos (Surabaya Town Square) Cinema XXI. Lebaran di bioskop ternyata menyenangkan juga karena penontonnya tidak terlalu banyak, saya hitung sekitar 30-an orang. Konsekuensinya HTM-nya agak sedikit mahal dibandingkan hari biasa (Senin-Jumat)

Saya dan Fajar memang menyiapkan diri secara khusus terutama ketika mendengar film-nya akan tayang akhir September. Walaupun agak telat, kami pun membeli buku Laskar Pelangi. Saya sendiri belum sempat menyelesaikan seluruh bab, sedangkan Fajar sudah menamatkan buku itu dalam waktu seminggu. Well, berbekal istri yang sudah menamatkan ‘Laskar Pelangi’ dan saya yang lebih penasaran dengan film-nya; seperti bertemu tumbu dengan tutupnya.

Dari film yang diproduksi Mira Lesmana (Miles) tersebut, istri saya melihat beberapa kelemahan jika dibandingkan dengan versi novelnya. Menurut dia, sekuen waktu yang tergambar dalam buku tidak diikuti didalam film, misalnya adegan ketika Lintang melintasi sarang buaya dalam perjalanan menuju pertandingan cerdas cermat, sedangkan versi buku menggambarkan kejadian tersebut merupakan salah satu penyebab mengapa suatu hari Lintang datang ke sekolah ketika pelajaran hampir berakhir. Contoh kedua, adegan pertandingan cerdas cermat terjadi pada masa sekolah dasar, sedangkan di dalam novelnya, cerdas cermat terjadi pada masa SMP.

Hal lainnya yang kurang menggelegar adalah ketika adegan tarian dalam karnawal, dimana seharusnya diikuti tidak hanya oleh 10 laskar pelangi tetapi juga adik-adik kelasnya yang berperan sebagai penggembala. Pertunjukan karya Mahar itu seharusnya terlihat kolosal. Satu lagi, didalam novel tidak satupun disebut mengenai meninggalnya Pak Harfan, sang Kepala Sekolah atau munculnya tokoh ‘Lani’ yang menghancurkan hati Ikal sewaktu membeli kapur. Ikal justru mengharapkan kemunculan ‘Aling’ yang pada saat itu sudah dikirim ke Jakarta menemani orangtuanya. Di dalam novel, tokoh ‘Lani’ tidak ada, justru pengganti Aling adalah seorang laki-laki.

Bagi saya yang belum selesai membaca novelnya, ada adegan yang serasa kurang nyambung dengan adegan sebelumnya atau sesudahnya. Adegan Flo menghilang di rawa sepertinya muncul tiba-tiba tanpa ada keterkaitan dengan adegan berikutnya. Istri saya menambahkan, didalam novel Flo hilang ketika berdarmawisata dan berhasil ditemukan oleh kelompok yang dipimpin Mahar (ini menjelaskan kenapa ketika Flo pindah sekolah, dia duduk sebangku dengan Mahar).

Saya sendiri agak berbeda pendapat, dalam hal menyampaikan pesan mengenai pentingnya pendidikan, sikap pantang menyerah, kekuatan mimpi/cita-cita, saya melihat film ini bisa menyampaikannya dengan cukup baik. Ditambah lagi, pesan mengenai kemiskinan, ketidakadilan, kesenjangan sangat mudah dirasakan secara visual dibandingkan penggambaran tertulis di dalam novel. Saya harus mengakui penggambaran isu-isu ini di dalam novelpun cukup baik, namun untuk kalangan yang lebih luas penggambaran visual didalam film ini cukup mengaduk-aduk perasaan. Bagaimana adegan demi adegan disusun untuk menggambarkan kondisi di SD Muhamadiyah dengan SD PN Timah seperti bumi dan langit, pesan seperti inilah tampaknya yang hendak ditonjolkan dalam film ini.

Seperti juga dalam film-film yang mengeksplorasi alam bebas, film ini cukup kuat menggambarkan keindahan alam Pulau Belitung dari padang savanna hingga pantai berbatu yang indah. Film ini juga meng-eksploitasi dengan cukup baik adegan-adegan ketika para aktor menaiki sepedanya. Tidak heran dari awal hingga akhir, elemen sepeda tidak bisa dilepaskan dari film ini.

Akhirnya dalam debat sepanjang perjalanan pulang dari bioskop, saya menyimpulkan bahwa tidak mungkin menuangkan seluruh halaman novel (534 halaman) ke dalam scene berdurasi 2,5 jam. Alhasil beberapa adegan pendukung memang tampak seperti pendukung saja tanpa bisa memperkuat plot utamanya. Anyway, saya tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton khususnya untuk mengingatkan cita-cita masa kecil yang terlupakan dan pentingnya pendidikan bagi tiap warga negara di Indonesia.

Akhirnya bagi yang belum menonton: Selamat Menonton!

sinopsis laskar pelangi bisa dibaca disini, disini, Sastra Belitong

Sep 26, 2008

license to operate

Dalam sebuah meeting dengan BUMN pertambangan ternama, salah satu staf BUMN tersebut mengemukakan perlunya ‘license to operate’ melalui kegiatan-kegiatan CSR. Mendengar kata ‘license to operate’ saya teringat kisah seorang kolega, warga negara Amerika – veteran perang Vietnam yang menghabiskan hidupnya di Thailand, yang saat ini aktif sebagai trainer dan fasilitator di isu-isu capacity building untuk pembangunan berkelanjutan. Kolega ini menceritakan bagaimana pada masa perang Vietnam, armada udara Amerika harus diterbangkan dari pedalaman Thailand puluhan pesawat setiap hari selama 24 jam. Membayangkan operasi yang sama di bandara, kebisingan yang ditimbulkan tentu sangat tinggi dan bisa mengganggu warga sekitar. Nah, kolega saya ini bertugas membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar untuk mendapatkan ‘license to operate’. Pelajaran yang saya peroleh adalah, konsep social responsibility itu ternyata tidak melulu berlaku di sektor ekstraktif seperti pertambangan maupun kehutanan. Tanggung jawab sosial merupakan ekspresi terhadap kebutuhan dan keprihatinan para stakeholder. Dan dalam kasus kolega saya itu, masyarakat disekitar airbase cukup menerima karena keberadaan serdadu Amerika ikut mendukung perekonomian setempat disamping masyarakat diberi bantuan sembako pada waktu-waktu tertentu.

Sep 13, 2008

Heboh daging sampah: berantas kemiskinan!

Tiba-tiba kita dikejutkan dengan beredarnya daging sampah. Daging sampah itu konon kabarnya merupakan limbah dari industry perhotelan yang kemudian dikumpulkan pemulung dan oleh pemulung kemudian disalurkan ke pengumpul dan dibeli oleh pedagang yang selanjutnya dijual kembali kepada konsumen.

 

Huh..akan jadi seperti apa ya bangsa ini kalau masyarakat kita mengkonsumsi makanan yang sudah menjadi ‘sampah’. Dari sisi kesehatan, makanan sampah jelas membahayakan. Disisi ekonomi, perilaku masyarakat kita sangat sensitive terhadap variable harga sehingga jika ada dua barang identik dengan salah satu barang harganya lebih murah, maka konsumen cenderung memilih produk dengan harga yang lebih murah. Sayangnya, pertimbangan kesehatan dan kualitas masih menjadi prioritas ke-sekian. Kondisi demikian, saya meyakini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang menurun ditambah adanya tren inflasi pasca kenaikan bahan bakar minyak lalu dan memasuki bulan ramadhan.

 

Menurut catatan BPS, inflasi bulan agustus 2008 dari kelompok pengeluaran bahan makanan menunjukkan kenaikan 0,94% dibandingkan bulan Juli 2008. Sementara laju inflasi berjalan dalam tahun 2008 mencapai 13,5%, sedangkan inflasi year on year (yoy) dibandingkan bulan Agustus 2008, jauh lebih tinggi lagi mencapai 20,08%. Besaran kontribusi pengeluaran bahan makanan didalam inflasi secara umum cukup tinggi, bahkan inflasi umum relative lebih rendah misalnya laju inflasi selama tahun 2008 mencapai 9,4%.

 

Bandingkan juga daya beli masyarakat di tingkat bawah. Masih menurut BPS, upah buruh industry nominal menunjukkan kenaikan 11,72% (yoy) atau triwulan I-2008 mencapai Rp 1,124 juta/bulan. Nah, kenaikan upah nominal ini ternyata tidak mampu mengejar inflasi, katakan saja dari komponen makanan sudah mencapai 13,5%. Tidak hanya itu, penurunan upah riil buruh bangunan sebesar 0,14% menunjukkan daya beli masyarakat yang mengalami penurunan.

 

Lalu semakin masuk akal, kemunculan daging sampah di pasar disebabkan adanya permintaan masyarakat. Namun, proses ini bisa berjalan sebaliknya. Dalam keyakinan ekonomi pasar, terdapat adagium ‘supply creates its own demand’. Ada kemungkinan, awalnya pedagang ‘nakal’ cuma mencoba-coba mendistribusikan daging sampah, tetapi  kemudian berlanjut karena terbentuk permintaan pada segmen masyarakat tertentu.

 

Dalam hal ini pemerintah harus melakukan dua hal, pertama meningkatkan daya beli masyarakat dengan penciptaan lapangan kerja secara luas. Hal ini diharapkan akan mengurangi kemiskinan. Kedua, melakukan pengawasan terhadap pelaku pasar untuk menjamin hak konsumen dalam mendapatkan produk yang aman dan sesuai standar kesehatan. Langkah kedua sudah mulai dilakukan, yang pertama.. masih jauh.

 

Jul 18, 2008

ha..ha..ha







nyantai dikit ah...
pengen sharing undangan nikah yang unik ala Kelik Pelipur Lara - Pemeran Wapres JK
ha..ha..ha

Jun 13, 2008

famine and Malthus's population check

Ada 2 artikel menarik di the economist, yang pertama (tentang teori Malthus) dan yang kedua (tentang kelaparan di Ethiopia). Menarik karena keduanya menyoroti mengenai penyebab kelaparan dari sisi yang berbeda. Argumentasi Malthus yang terkenal yaitu overpopulasi akan mengalahkan produksi makanan, dimana daya dukung lingkungan tidak mampu 'memberi makan' populasi yang ada sehingga penduduk berkompetisi mendapatkan makanan. Ada yang dapat, lalu yang tidak dapat menderita kelaparan. Solusi ala Malthus adalah pembatasan jumlah penduduk.

Pendapat Malthus seringkali kita dengar namun jika melihat beberapa kondisi empiris, tampaknya pembatasan penduduk tidak selalu menjawab problem kelaparan di berbagai tempat. Salah satunya seperti di artikel kedua (disini). Perubahan iklim, buruknya iklim investasi khususnya di sektor pertanian, dan governance yang buruk melipatgandakan dampak kekeringan menjadi kelaparan. Selain itu, persoalan struktural seperti ketiadaan akses terhadap lahan pertanian memberikan kontribusi yang signifikan terhadap transformasi kekurangan makanan menjadi bencana kelaparan. Lalu kalau menggunakan solusi pembatasan penduduk, yang seperti apa? tanpa pembatasan pun, bencana kelaparan akhirnya menjadi pembatas penduduk alamiah, bukan? Mungkin ada pula pengambil kebijakan yang secara 'tidak sadar' menunda pengiriman bantuan bagi korban bencana yang akhirnya menambah jumlah korban jiwa. Mereka ini secara 'tidak sadar' meyakini bahwa jumlah penduduk adalah problem. Sayangnya walaupun jumlah penduduk merupakan problem namun menyelesaikan persoalan tersebut dengan kacamata 'Malthus' tapi tidak selalu tepat dalam situasi seperti ini.

Tentang kritik terhadap Malthus bisa dibaca disini

Jun 8, 2008

Piala eropa yang menyesakkan

Malam tadi, Piala Eropa dibuka dengan opening ceremony yang meriah dan disiarkan setidaknya di tiga stasiun TV nasional. Ada yang menyesakkan ketika melihat bagaimana opening ceremony dipertontonkan. Saya teringat bagaimana kemeriahan yang berbeda terasa ketika Jakarta menjadi tuan rumah sebuah event olah raga internasiona, Thomas and Uber Cup 2008. Seingat saya tidak ada opening ceremony yang demikian menggelegar, hanya beberapa iklan layanan dari televisi swasta yang menjadi salah satu sponsor even tersebut.
Acara malam tadi demikian menyesakkan bukan karena orang dilarang mendukung kesebelasan tim negara lain namun ekspresi yang sama sayangnya tidak ditunjukkan ketika tim Indonesia dari cabang olah raga apapun berlaga di even internasional. Lalu, presenter dan pengisi acara dengan bangga memakai kostum negara peserta piala eropa termasuk atribut bendera juga dikibarkan penonton. Pertanyaannya apakah sedemikian mindernya kita hingga kita menjadi bangga dengan mengibarkan bendera negara lain?

Jun 4, 2008

BLT dan gender inequality

Akhirnya harga BBM naik dengan didukung dalih pemerintah yang memberikan bantuan langsung tunai (BLT) sebagai upaya mengurangi dampak bagi kelompok masyarakat yang miskin dan hampir miskin. Ada yang dilupakan dari kebijakan ini, yaitu dampaknya kepada keadilan gender. Kenapa isu ini menjadi penting? Tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan gender masih membelit masyarakat kita. Isu gender sering kali hanya dipahami sebagai emansipasi wanita, parahnya pada sebagian masyarakat contohnya 'kelompok' dalam agama menolak dengan kencang isu-isu gender bahkan membuat penghakiman yang tidak perlu terhadap elemen-elemen pendorong keadilan gender (ini kasus nyata di kelompok pengajian di kompleks saya).
Sayangnya fakta di lapangan, ketidakadilan gender ini masih terus terjadi. apalagi dengan BLT yang dikeluarkan tanpa memperhitungkan dampak terhadap relasi gender, mengakibatkan kelompok perempuan dan anak-anak yang semakin menderita.
Pandangan sebagian kita bahwa laki-laki adalah bread-winner, pembawa penghasilan ke dalam rumah tangga menyebabkan keputusan dalam rumah tangga dibuat oleh laki-laki yang dianggap paling bertanggung jawab dalam keluarga. Tengok saja gambar-gamber berikut:

















  • siapa yang mengantri BLT? yap.. perempuan dan anak-anak
  • kemana laki-laki? tentu saja bekerja, mereka kan 'kepala keluarga'
  • siapa yang menikmati BLT? tergantung apa kata kepala keluarga (laki-laki). bisa jadi dibelikan rokok tambahan karena pendapatan pasca BLT relatif meningkat
  • bagaimana nasib anak-anak dan perempuan? ya.. tergantung apa kata kepala keluarga. Tidak ada jaminan alokasi makanan-pun bertambah setelah mendapat BLT. bisa-bisa semakin berkurang karena laki-laki sebagai kepala keluarga meminta porsi lebih banyak karena 'sekali lagi' dia kepala keluarga.

Nah dengan kondisi seperti ini apa iya BLT akan memperbaiki kesejahteraan ibu (perempuan) dan anak? Conditional cash transfer atau nama kerennya PKH (program keluarga harapan) seharusnya diperluas cakupannya. Saat diluncurkan baru tujuh provinsi dengan cakupan kurang lebih 500.000 keluarga miskin. Dulu cuma 27 provinsi, sekarang sudah berapa provinsi ya?

Jan 18, 2008

Orang kaya=Orang penderma

Pandangan kita sering keliru menyangka orang kaya itu kurang berderma. Tidak juga, mungkin beberapa kasus statemen ini benar tapi di kasus yang lain orang kaya justru yang paling berderma tanpa perlu berteriak-teriak. Dalam ajaran Islam, tangan kanan berbuat baik jangan sampai diketahui oleh tangan kiri. Ada lagi, tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah.

Link berikut menjelaskan betapa orang kaya juga rajin berderma. Menariknya, orang paling kaya di Indonesia ternyata paling banyak berderma. Para penderma (philantrophist) tersebut disusun berdasarkan kontribusi dalam aspek sosial termasuk pendidikan, kesehatan, olah raga, kesenian dan juga bantuan terhadap bencana alam. Mungkin ini menjadi jawaban kenapa Abu Rizal Bakri termasuk orang yang paling berderma, karena bencana Lapindo dimana dia 'diduga' berada dibelakang Lapindo ketika bencana itu terjadi dan sekaligus ikut bertanggung jawab kepada korban. Tapi apakah itu cukup adil bagi korban bencana dan lingkungan yang menjadi rusak?

Jan 17, 2008

Iklim buruk investasi migas

Ini oleh-oleh dari menghadiri seminar dengan pembicara Kurtubi, pakar perminyakan nasional. Topiknya tidak jauh seputaran dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap perekonomian nasional. Pertanyaan mendasarnya kenapa Indonesia gagal mengambil manfaat dari kenaikan harga minyak seperti pernah terjadi di era 70-an? Dari diskusi tersebut bila dirunut terungkap perubahan kebijakan neoliberal pada industri migas berdampak terhadap ketidakpastian berinvestasi.

Salah satu poin penting adalah kondisi Indonesia saat ini sebagai net importer disebabkan oleh permintaan dalam negeri yang lebih besar dari produksi per tahunnya. Alhasil kekurangannya dicarikan dari sumber impor. Pertanyaan kenapa supply lebih kecil dapat dijawab dengan tidak ditemukannya sumber-sumber minyak baru selama kurun 8 tahun terakhir (2001-2008) sehingga produksi aktual hanya mengandalkan lapangan lama yang marginal produktivity-nya dipastikan sudah menurun. Pertanyaan selanjutnya kenapa tidak ada upaya ekplorasi sumur-sumur minyak baru? Penyebabnya diantaranya ketidakpastian investasi dan perubahan kebijakan perminyakan dengan dikeluarkannya UU migas no 22/2001.

Dalam UU tersebut, Pertamina tidak lagi menjadi pemain tunggal dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak. Sebagai gantinya dibentuk badan pelaksana (BP migas) yang dibentuk untuk melakukan pengendalian kegiatan usaha hulu di bidang minyak dan gas bumi. Implikasi yang juga diatur dalam UU tersebut Pertamina tidak lagi berdiri sendiri tetapi harus melakukan kontrak kerja sama dengan badan pelaksana untuk melanjutkan kegiatannya pada wilayah kuasa pertambangannya. Dengan kata lain, badan pelaksana-lah yang menjadi 'pintu' kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas termasuk mengelola penerimaan sektor migas dalam bentuk kontrak bagi hasil-production sharing contract. Sementara Pertamina dan perusahaan perminyakan lainnya harus mengikuti 'rule of play' dari badan pelaksana.

Salah satu implikasi buruk dari UU tersebut adalah ketentuan perpajakan pada kegiatan eksplorasi, padahal tahap ini tingkat keberhasilannya belum pasti. Selain itu otonomi daerah ikut memperburuk citra investasi dengan semakin banyaknya meja yang harus dilalui dalam prosedur investasi. Tau sendiri dong, banyak meja artinya apa? (bersambung)