Nov 9, 2007

Telepon seluler & konversi BBM

Apakah ada hubungannya jaringan telpon seluler dengan program konversi minyak tanah ke gas? Silahkan berfikir sejenak sementara saya ceritakan bagaimana sinyal hp (handphone) mengatasi keterpencilan.

Saya pernah mengalami kenikmatan tidak punya hp di era semua orang merasa 'harus' memiliki hp ketika saya bekerja d kep. Tanimbar, salah satu pulau terpencil di maluku. Saya merasa bebas kemanapun tanpa khawatir orang lain tahu dan menghubungi saya. Juga saya tidak perlu deg-degan setiap mendengar dering hp. Alat komunikasi yang tersedia disana hanya telepon kabel & surat menyurat. Mengirim surat ke jakarta atau sebaliknya bisa mencapai 1 bulan, walaupun dikirim dg kilat khusus.

Sejak 2 tahun lalu, pemandangan orang menenteng hp sudah tidak asing lagi. Semenjak itu pula kesan remote sudah tidak terasa lagi. Lalu bagaimana dengan kantor pos? Agaknya kerjanya lebih ringan apalagi peran komunikasi tulis semakin tergantikan oleh sms. Bahkan ucapan hari besar keagamaan lebih murah dkirim lewat sms.

Tampaknya ini yang terjadi secara umum pada PT. POS ketika penetrasi telpon seluler merambah ke pelosok negeri. Pekerjaan yang berhubungan dengan core business (pengiriman surat & paket pos) PT. POS semakin sedikit sehingga tidak mengherankan ketika PT.POS masuk ke area yang tidak sepenuhnya berhubungan dngan core business-nya seperti distribusi kompor gas dalam program konversi energi.

Saya belum melakukan regresi apapun, tapi jika anda mau mencoba; kesuksesan program konversi minyak tanah kemungkinan dipengaruhi oleh penetrasi telpon seluler. Dengan demikian investasi jaringan seluler yang semakin luas akan menduking program konversi minyak tanah.

Nov 7, 2007

good and bad of global warming

Ini sebuah cerita yang saya dapat dalam sebuah workshop. Cerita ini tentang sejauh mana dampak global warning terhadap kehidupan manusia. Untuk memahami pemanasan global, mari kita ambil contoh sederhana. Setiap anda bepergian dengan kendaraan bermotor, asapnya akan dilepaskan ke udara bebas & atmosfer. Dalam konsentrasi yang kecil akumulasi polutan tidak membahayakan, sayangnya akumulasi itu sudah terjadi sejak revolusi industri dimulai. Yang membahayakan dari emisi gas adalah ketidakmampuan atmosfer melepaskan panas matahari ke luar angkasa karena terhalang kumpulan gas polutan tadi. Efeknya panas terpantul kembali ke bumi dan secara perlahan berkontribusi dalam pencairan es di kutub & pemanasan air laut. Itulah kenapa gas rumah kaca (GRK) disebut meminjam situasi sejenis di rumah kaca.

Air laut yang lebih hangat bukan sesuatu yang buruk. Kondisi ini memicu metabolisme yang lebih cepat termasuk perkembangbiakan spesies tertentu, contohnya squid (sotong, cumi-cumi dan sejenisnya). Banyak riset yang menunjukkan hal ini (disini, disini,). Apa artinya bagi penikmat seafood? Tidak perlu khawatir kekurangan cumi-cumi bahkan kini bisa menyantap lebih banyak karena ketersediaannya melimpah. Lalu? Yap tepat sekali, penikmat seafood tentu tahu konsekuensi kesehatan yaitu kolesterol. Semakin banyak konsumen cumi-cumi akan meningkatkan resiko kesehatan, anda harus bolak-balik ke dokter dong? Padahal pergi ke dokter juga naik kendaraan bermotor, dan itu artinya menambah GRK.
Moral cerita, dalam suatu sistem elemen-elemennya tidak selalu bergerak saling mendukung, kadang saling bertabrakan lalu kembali mengikuti pola-pola yang sudah ada. Jadi global warming tidak terlalu buruk, bukan?