Oct 20, 2007

Land Evolution (revisited)

Sejak 1995,hampir setiap tahun saya usahakan untuk pulang ke Denpasar,kota tempat saya di besarkan hampir 20 tahun. Di kota ini, setiap saya datang, semakin mnggeliat & mempercantik diri. Sekarang, mencari mal & pusat pertokoan tidak sesulit dulu, demikian pula jenis & kualitas barang yang di tawarkan semakin beragam.

Menjamurnya pusat pertokoan, mal dan sejenisnya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan penduduk yang melirik Denpasar sbg pusat ekonomi baru. Meningkatnya jumlah penduduk -termasuk para pendatang- merupakan ancaman tersendiri untuk konversi lahan pertanian. Dampak ini saya perhatikan sangat jelas terlihat polanya. Kota Denpasar tumbuh ke wilayah yang dulu disebut pinggiran. Rumah saya di daerah Padang Sambian, saat ini bukan pinggiran lagi. Saya ingat ketika rumah saya masih dlm proses pembangunan, hamparan sawah yang menghijau adalah pemandangan biasa & tidak jauh dari rumah ada sungai yang saya biasa memancing dsana. Bahkan, untuk mencapai rumah saya hanya ada satu jalan yang dibeberapa tempat masih belum diaspal.

Sekarang, jalan aspal hotmix sudah menembus kira-kira 50 meter dibelakang rumah saya. Lahan sawah yang dulu sejauh mata memandang,kini tinggal beberapa petak saja. Gantinya, bangunan rumah, hotel, pertokoan berdiri disana. Sering saya bertanya bagaimana nasib pemilik sawah yang dikonversi itu? Apakah sesuai dg prediksi Lenin dimana mereka menjadi wage laborer di kota atau menjadi orang kaya baru? Konon, beberapa orang menjadi sukses setelah menjual tanahnya sedangkan beberapa yang lain nasibnya tidak berubah bahkan lebih buruk. Tetapi yang pasti, nasib para buruh tani semakin tdak jelas karena penyempitan luas sawah mengakibatkan kompetisi mendapatkan pekerjaan semakin sulit. Sementara, mencoba pekerjaan dluar pertanian tidak mudah karena ada skill gaps yang tidak dimiliki padahal dibutuhkan oleh non farm jobs.

Cerita seperti ini terjadi dibanyak tempat lainnya di Indonesia. Yang pernah saya datangi, Kepulauan Tanimbar & Kabupaten Pelalawan Riau terlihat pola-pola sejenis. Yang sedikit berbeda adalah pengusaan atas tanah dikedua tempat tersebut masih didominasi oleh tanah adat (ulayat=Riau; petuanan=Tanimbar).

Dosen saya pernah bertanya dalam seminar tesis 'Kalau komersialisasi tanah itu tak bisa dihindari,lalu apa?'. Jawaban saya saat ini adalah yang paling penting tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Setidaknya ada 2 persoalan mendesak yakni lapangan kerja & ketahanan pangan. Petani & buruh tani mungkin sudah saatnya pindah pekerjaan ketika upah bertani lebih kecil upah d tempat lain. Untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan, perlunya campur tangan pemerintah untuk memberi insentif petani berproduksi lebih banyak. Untuk menghidari perpindahan tenaga kerja ke luar sektor pertanian, sektor ini harus atraktif. Caranya perlu ada campur tangan pemerintah untuk memberikan insentif agar petani mau berproduksi lebih banyak. Dengan kata lain membuat pendapatan petani lebih besar pendapatan di tempat lainnya sehingga dia tidak harus menjual tanahnya bahkan kalau perlu memperluas lahan garapannya. Paling tidak dua hal akan terpenuhi yaitu lapangan kerja dan ketahanan pangan .

3 comments:

Yudo said...

Bay, bukannya ini menjadi kontradiktif ya? : "Setidaknya ada 2 persoalan mendesak yakni lapangan kerja & ketahanan pangan. Petani & buruh tani mungkin sudah saatnya pindah pekerjaan ketika upah bertani lebih kecil upah d tempat lain. Untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan, perlunya campur tangan pemerintah untuk memberi insentif petani berproduksi lebih banyak". Disatu sisi lo menekankan perlunya petani pindah lapangan pekerjaan dan disaat bersamaan petani juga mesti bekerja di pertanian.

pelantjong maja said...

hmm waktu itu gue mikir apaan yah? ok, memang harusnya ada satu paragraf tambahan (addendum).

"Untuk menghidari perpindahan tenaga kerja ke luar sektor pertanian, sektor ini harus atraktif. Caranya perlu ada campur tangan pemerintah untuk memberikan insentif agar petani mau berproduksi lebih banyak. Dengan ini dua hal akan terpenuhi yaitu lapangan kerja dan ketahanan pangan ."

Berly said...

Kan kalo produksi meningkat maka harga menurun Bay :-D
Dan karena produk2 pertanian adalah barang tidak elastis maka tidak akan meningkat jauh demand-nya.


Di negara2 maju jg petani hanya sekitar 5 persen dari populasi. Lebihnya ke manufaktur dan jasa krn agroindustri butuh tipe petani yg berbeda dari kebanyakan petani Indonesia. Yg penting adalah proses transisinya smooth (traning, subsidi pendidikan dasar+menengah etc)