Aug 4, 2007

Permen, Formalin dan Perdagangan Internasional

Makanan (permen, pasta gigi dan kosmetik) mengandung formalin dan bahan berbahaya dari China menjadi berita panas di Indonesia (disini, disini dan disini). Pemerintah Indonesia diminta mengawasi dan melarang impor makanan dari China. Tidak kurang akal, otoritas pengawas makanan di China membalas dengan melarang impor produk makanan Indonesia (disini).
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari fenomena ini?

#1 dalam perdagangan, prinsipnya saling menguntungkan. Jika pedagang A melarang memperdagangkan produk pedagang B maka B akan membalas tindakan yang sama terhadap produk A

#2 Pemerintah negara yang bersangkutan harus kreatif untuk mencari pasar baru bagi produk yang dilarang dan/atau mengawasi dan memperbaiki kualitas produk ekspor dari lini produksi sampai distribusi

#3 Seandainya menembus pasar baru sulit dilakukan, pilihan paling mudah adalah renegosiasi terselubung. Model penyelesaiannya di bawah tangan ini akan menghasilkan kesepakatan perdagangan tetap terjalin diantara kedua negara walaupun mengetahui hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan warga negara masing-masing.

#4 Pemerintah yang bermental pedagang, hanya peduli pada keuntungan dan jangan berharap ada kepedulian dan jaminan terhadap keselamatan dan kesehatan warga negaranya.

lalu kita akan ke arah mana??

ps: poin-poin diatas sebagian adalah kritik untuk tulisan seorang teman tentang manfaat perdagangan internasional

5 comments:

yudo said...

Bos ini komentar saya mengenai postingan mu ini :D
http://twicaksono.wordpress.com/2007/08/06/tentang-perdagangan-bebas-komentar/

Socrates Rudy Sirait said...

Tanpa perdagangan internasional, apakah mungkin suatu negara bisa bertahan dan bersaing?

masarcon said...

http://masarcon.multiply.com/journal/item/169/Sate_Ayam_Lebih_Berbahaya_Dibanding_Makanan_Berformalin_

ini komenku, bay ..

pelantjong maja said...

socrates: perdagangan internasional untuk saat ini sangat kita perlukan, mungkin situasi di masa lalu, suatu negara masih bisa hidup tanpa perdagangan internasional contohnya Jepang sebelum restorasi Meiji. Poinnya menurut saya bukan perlu tidaknya perdagangan internasional tetapi bagaimana membuat perdagangan internasional yang lebih adil (fair trade and not free trade)

Socrates Rudy Sirait said...

Fair Trade dan Free Trade
Saya kira pengertian fair trade dan free trade berada pada spirit yang sama, hanya berbeda pengertian.
Perdagangan tertutup yang saling menguntungkan 2 negara bisa dianggap fair bagi negara ybs tapi tidak fair bagi negara lain yg ingin berpartisipasi. Oleh sebab itu "Fair Trade" harus berada pada tatanan "Free Trade" dimana hak, kewajiban dan kesempatan semua peserta perdagangan adalah sama.

Seringkali, Indonesia merasa dipencundangi dalam free trade, padahal dalam banyak kesempatan Indonesia sering melakukan perdagangan yang tidak fair.

Intellectual property dilecehkan dan barang bajakan marak dimana2?
Labor abuse dengan sebaliknya mengatakan labor cost sebagai competitive advantage.
Environment ignorance dengan mengatakan biaya amdal di Indonesia murah dan ketika terjadi masalah, ramai2 menuding pengusaha.

Maka menurut saya, fair tradepun tetap bermata dua, coin and tail, bersifat subjektif. Fair trade pada tatanan free trade tetap memerlukan negosiasi dan proteksi. Tidak akan pernah ada fair dalam pengertian yang paling polos dan sederhana.