Aug 9, 2007

Kenapa saya belum meng-konversi minyak tanah ke gas LPG?

Untuk alasan praktis dan cenderung konservatif sejak awal berumahtangga, saya menggunakan kompor minyak tanah. Saat ini pemerintah memperkenalkan program konversi minyak tanah ke gas dengan alasan pengurangan penggunaak BBM yang pada akhirnya mengurangi subsidi pemerintah terhadap minyak tanah (disini). Minyak tanah adalah produk yang mendominasi besaran subsidi, sekitar 75% (disini).

Ada beberapa alasan kenapa saya memilih menggunakan minyak tanah:
#1 harga terjangkau, termasuk infrastruktur pendukung seperti kompor tersedia cukup banyak di pasar
#2 mudah diperoleh, di sekitar tempat saya tinggal minyak tanah bisa dibeli di warung, toko ataupun penjaja minyak keliling. Salah satu keuntungan membeli minyak pada penjaja keliling adalah harganya lebih murah dibandingkan membeli di warung. Kapan-kapan kita ulas kenapa ini bisa terjadi.
#3 aman digunakan, pemakaian minyak tanah secara relatif beresiko lebih kecil dibandingkan pemakaian gas.

Tetapi saya mulai berpikir seandainya saya menggunakan gas LPG untuk memasak, keuntungan dan kendala apa saja yang mungkin saya temui?
#1 biaya yang lebih murah; dalam sebulan penggunaan minyak tanah, kami bisa menghabiskan Rp 73 ribu; sedangkan isi ulang LPG hanya Rp 55 ribu. Angka pemakaian LPG masih berupa asumsi jika pola memasak saat ini menghabiskan 1 tabung gas saja.
#2 investasi awal; untuk awal saya harus membeli kompor gas, selang tabung dan regulator serta tabung gas beserta isinya untuk pengisian ulang berikutnya. Setelah di total semuanya bisa menghabiskan antara Rp 300-500 ribu.
#3 mudah memperoleh tabung; rata-rata toko kelontong yang cukup besar menyediakan tabung LPG ukuran 15 kg ini. Bandingkan dengan ketersediaan tabung gas 3kg program konversi di pasar? Produksi tabung masih terhambat investasi (disini)
#4 resiko tinggi; jika tidak berhati-hati, kesalahan penggunaan dapat berakibat fatal. Untuk itu pengetahuan dan pengalaman dibutuhkan. Kejadian meledaknya tabung gas program konversi setidaknya menunjukkan 2 hal yaitu kualitas tabung yang buruk (disini) dan perlu waktu untuk merubah perilaku masyarakat dalam hal penggunaan gas.

Poin terakhir soal konversi minyak tanah adalah kelangkaan minyak tanah menjelang penerapan konversi secara nasional; Apakah dengan menghilangkan minyak tanah di pasar, orang akan menyerbu membeli gas? Jawabannya belum tentu! Siapa yang bermain di belakang kelangkaan minyak tanah? ini harus diungkap jika pemerintah ingin program konversi sukses.

2 comments:

masarcon said...

kayaknya kamu masih belum biasa makai kompor gas, by .. jadi langsung pakai saja :D

admin-evo said...

huahaha..betul, dan perubahan perlu waktu, hihihi sampai takutnya ilang