Aug 31, 2007

Ganyang Malaysia...

Rame-rame ngomongin pemukulan wasit karate di Malaysia (disini), iseng-iseng browsing di google dan ini hasilnya:

224,000 hasil penelusuran untuk malaysia "illegal logging". (0.12 detik)
185,000 hasil penelusuran untuk malaysia tki. (0.10 detik)
62,800 hasil penelusuran untuk malaysia wasit indonesia. (0.16 detik)
49,100 hasil penelusuran untuk malaysia ambalat. (0.32 detik)
16,500 hasil penelusuran untuk ganyang malaysia. (0.06 detik)

Hasil pencarian ini menunjukkan skala dan kerumitan masalah yang dihadapi dalam hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia. Kalau bicara siapa salah apa, saya kira kedua negara sama-sama menyumbang terhadap munculnya masalah tersebut. Sekarang pilihannya adalah ketegasan kedua belah negara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tertunda. Penyelesaian jalur hukum harus dikedepankan dengan mendorongnya melalui jalur diplomatik kedua negara. Jika tidak diantisipasi dengan segera, anarki
masyarakat yang berkedok nasionalisme untuk "menggayang Malaysia" bisa kembali terjadi.

Aug 26, 2007

keadaan darurat untuk kebakaran hutan

sebuah berita menarik dari media Indonesia (disini)
Yunani, Sabtu waktu setempat, mengumumkan negara dalam keadaan darurat, seiring jumlah korban tewas akibat kebakaran hutan yang paling tidak mencapai 49 orang.
....

"Hari ini adalah hari berduka. Ini adalah tragedi nasional," kata Karamanlis, Sabtu pagi, setelah pertemuan di Kota Sparta, Peloponnese.


sumber (disini)

kapan ya, pemimpin bangsa Indonesia mengumumkan keadaan serupa ketika bencana ekologis kebakaran hutan kerap terulang? salah satu contohnya ini kejadian terakhir.

Aug 9, 2007

Kenapa saya belum meng-konversi minyak tanah ke gas LPG?

Untuk alasan praktis dan cenderung konservatif sejak awal berumahtangga, saya menggunakan kompor minyak tanah. Saat ini pemerintah memperkenalkan program konversi minyak tanah ke gas dengan alasan pengurangan penggunaak BBM yang pada akhirnya mengurangi subsidi pemerintah terhadap minyak tanah (disini). Minyak tanah adalah produk yang mendominasi besaran subsidi, sekitar 75% (disini).

Ada beberapa alasan kenapa saya memilih menggunakan minyak tanah:
#1 harga terjangkau, termasuk infrastruktur pendukung seperti kompor tersedia cukup banyak di pasar
#2 mudah diperoleh, di sekitar tempat saya tinggal minyak tanah bisa dibeli di warung, toko ataupun penjaja minyak keliling. Salah satu keuntungan membeli minyak pada penjaja keliling adalah harganya lebih murah dibandingkan membeli di warung. Kapan-kapan kita ulas kenapa ini bisa terjadi.
#3 aman digunakan, pemakaian minyak tanah secara relatif beresiko lebih kecil dibandingkan pemakaian gas.

Tetapi saya mulai berpikir seandainya saya menggunakan gas LPG untuk memasak, keuntungan dan kendala apa saja yang mungkin saya temui?
#1 biaya yang lebih murah; dalam sebulan penggunaan minyak tanah, kami bisa menghabiskan Rp 73 ribu; sedangkan isi ulang LPG hanya Rp 55 ribu. Angka pemakaian LPG masih berupa asumsi jika pola memasak saat ini menghabiskan 1 tabung gas saja.
#2 investasi awal; untuk awal saya harus membeli kompor gas, selang tabung dan regulator serta tabung gas beserta isinya untuk pengisian ulang berikutnya. Setelah di total semuanya bisa menghabiskan antara Rp 300-500 ribu.
#3 mudah memperoleh tabung; rata-rata toko kelontong yang cukup besar menyediakan tabung LPG ukuran 15 kg ini. Bandingkan dengan ketersediaan tabung gas 3kg program konversi di pasar? Produksi tabung masih terhambat investasi (disini)
#4 resiko tinggi; jika tidak berhati-hati, kesalahan penggunaan dapat berakibat fatal. Untuk itu pengetahuan dan pengalaman dibutuhkan. Kejadian meledaknya tabung gas program konversi setidaknya menunjukkan 2 hal yaitu kualitas tabung yang buruk (disini) dan perlu waktu untuk merubah perilaku masyarakat dalam hal penggunaan gas.

Poin terakhir soal konversi minyak tanah adalah kelangkaan minyak tanah menjelang penerapan konversi secara nasional; Apakah dengan menghilangkan minyak tanah di pasar, orang akan menyerbu membeli gas? Jawabannya belum tentu! Siapa yang bermain di belakang kelangkaan minyak tanah? ini harus diungkap jika pemerintah ingin program konversi sukses.

Aug 8, 2007

Jalur Normal Membuat SIM

Ketika membuat SIM (surat izin mengemudi), banyak yang sengaja memilih menggunakan jasa calo (yang biayanya lebih mahal) dengan alasan agar SIM lebih cepat jadi. Akan tetapi melewati jalur normal tidak selambat yang dikira banyak orang. Ini pengalaman saya membuat SIM di salah satu kantor polisi di wilayah jabodetabek dengan memakai jalur normal.

Pertama-tama, saya harus melakukan cek kesehatan yang berlokasi disalah satu bagian di kantor kepolisian tersebut. Tanpa saya harus diperiksa, saya langsung diminta membayar Rp 20 ribu, opps! Selanjutnya, dengan membawa kuitansi dari bagian kesehatan saya pergi ke loket pembelian formulir SIM di bank dan membeli asuransi pertanggungan kecelakaan selama 5 tahun. Tertulis jelas di kaca loket: SIM baru=Rp 75 ribu; SIM perpanjangan=Rp 60 ribu; demikian juga asuransi dipatok pada harga Rp 15 ribu. Sampai tahap ini saya sudah menghabiskan Rp 110 ribu.

Setelah formulir diisi dengan lengkap, saya serahkan semuanya dibagian pendaftaran untuk menunggu panggilan ujian teori. Untuk ujian ini diharuskan menggunakan pensil 2B. Karena tidak membawa pensil, saya membelinya dengan harga Rp 2 ribu (yang sebenarnya mungkin hanya Rp 500,-). Di ruangan ujian teori, tidak ada yang spesial pada lembar jawaban, pemeriksaannya pun bukan menggunakan komputer seperti UMPTN tapi dengan cara manual. Apakah menjual pensil salah satu sampingan polisi?

Lulus dari ujian teori, saya pergi ke bagian ujian praktek dan membayar Rp 5 ribu untuk biaya sewa motor. Yang diujikan dalam ujian praktek adalah kemampuan melewati rintangan tanpa membuatnya terjatuh dan tanpa menurunkan kaki dari motor. Kelihatan mudah dilalui sampai seorang petugas memberikan contoh. Ketika dicoba ternyata tidak mudah, demikian juga beberapa orang peserta lain sesudah saya. Intinya kami gagal dan sesuai peraturan peserta harus kembali ujian praktek 1 minggu ke depan dan tanpa dipungut biaya tambahan. Agaknya saya harus kompromi dengan kesibukan saya minggu-minggu depan, lalu saya tanyakan apakah ada cara lain? Tanpa berbicara banyak, petugas di bagian ujian praktek menunjukkan kertas bertuliskan “100”. Saya berusaha menawar akan tetapi tidak ada tawar menawar. Jadi total uang yang saya keluarkan sudah mencapai Rp 217 ribu. Dari bagian ujian praktek, saya serahkan lagi formulir ke bagian pendaftaran untuk menunggu pengambilan foto SIM, sidik jari dan tanda tangan. Tidak lama, saya sudah dipanggil dan menerima SIM beberapa menit kemudian. Waktu yang saya habiskan sejak menginjak kantor kepolisian hingga menerima SIM kurang lebih 2,5 jam. Tidak terlalu lama saya kira.

Bandingkan dengan jalur via calo (petugas resmi maupun jasa pengurusan SIM kolektif), tarif untuk membuat SIM bisa mencapai Rp 310 ribu. Kenapa banyak yang memilih menggunakan jasa calo? Selama ini pengurusan SIM dikesankan sulit, berbelit-belit dan makan waktu yang lama. Sebagian alasan ini ada benarnya juga, contohnya tadi kegagalan saya pada ujian praktek. Rintangan yang harus saya lalui kelihatan sudah diatur sehingga tingkat kesulitannya cukup tinggi. Lalu kenapa petugas yang memberi contoh bisa melaluinya? Tentu saja kan mereka setiap hari berada di kantor itu dan memungkinkan mereka berlatih setiap hari. Seandainya saya punya peluang berlatih yang sama, maka uang Rp 100 ribu tadi tidak perlu saya berikan sebagai syarat kelulusan.

Kalo bisa jalur normal, kenapa harus lewat calo? Bagaimana dengan Anda?

Aug 4, 2007

Permen, Formalin dan Perdagangan Internasional

Makanan (permen, pasta gigi dan kosmetik) mengandung formalin dan bahan berbahaya dari China menjadi berita panas di Indonesia (disini, disini dan disini). Pemerintah Indonesia diminta mengawasi dan melarang impor makanan dari China. Tidak kurang akal, otoritas pengawas makanan di China membalas dengan melarang impor produk makanan Indonesia (disini).
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari fenomena ini?

#1 dalam perdagangan, prinsipnya saling menguntungkan. Jika pedagang A melarang memperdagangkan produk pedagang B maka B akan membalas tindakan yang sama terhadap produk A

#2 Pemerintah negara yang bersangkutan harus kreatif untuk mencari pasar baru bagi produk yang dilarang dan/atau mengawasi dan memperbaiki kualitas produk ekspor dari lini produksi sampai distribusi

#3 Seandainya menembus pasar baru sulit dilakukan, pilihan paling mudah adalah renegosiasi terselubung. Model penyelesaiannya di bawah tangan ini akan menghasilkan kesepakatan perdagangan tetap terjalin diantara kedua negara walaupun mengetahui hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan warga negara masing-masing.

#4 Pemerintah yang bermental pedagang, hanya peduli pada keuntungan dan jangan berharap ada kepedulian dan jaminan terhadap keselamatan dan kesehatan warga negaranya.

lalu kita akan ke arah mana??

ps: poin-poin diatas sebagian adalah kritik untuk tulisan seorang teman tentang manfaat perdagangan internasional