Jun 1, 2007

Death ritual in Indonesia

Ada yang sama ketika membicarakan upacara kematian baik itu di kota maupun di daerah terpencil di Indonesia yaitu kematian adalah suatu yang sakral sehingga ada banyak upacara yang mengiringinya.

Saya ingin menceritakan upacara kematian di metropolitan Jakarta dan membandingkannya dengan upacara yang sama di kepulauan Tanimbar, sebuah kepulauan terpencil di utara kota Darwin, Australia. Terlepas dari faktor agama yang menjadi anutan masing-masing umat, keduanya mengarah pada fenomena yang sama, yakni peringatan upacara kematian selama beberapa hari dan menurut saya berlebihan.

Di sebuah kampung urban di Jakarta, kematian diperingati selama 7 malam tahlilan berturut-turut. Setiap malam, undangan yang datang disuguhi makanan/minuman selama prosesi bahkan pada malam tertentu tamu diberikan paket (nasi+lauk pauk) untuk dibawa pulang sedangkan pada malam lain hanya berupa kue saja. Saya melihat sendiri bagaimana kesibukan yang dilakukan keluarga yang ditinggalkan dibantu oleh beberapa tetangga untuk mempersiapkan makanan pada siang hari. Tidak berhenti sampai acara malam, beberapa orang diberi tugas untuk begadang hingga pagi di rumah duka dan tentu saja mereka disediakan kopi dan makanan secukupnya.

Di desa-desa kepulauan Tanimbar, kematian diperingati secara berbeda. Masyarakat masih menggunakan sistem adat duan lolat (saling memberi dan menerima) dalam upacara adat, termasuk kematian. Dalam kematian, lolat harus memberikan babi kepada duan dari keluarga yang meninggal. Sementara duan akan membalas dengan memberikan kain tenun kepada lolat tersebut. Pada hari ke-7 seluruh desa akan diundang ke rumah yang meninggal untuk menghadiri doa dan makan bersama. Pemberian babi dari lolat tadilah yang disuguhkan kepada tamu-tamu yang datang.

Sebagai satu siklus penting kehidupan manusia, kematian kadang diperingati secara berlebihan. Apa yang saya maksud berlebihan adalah penggunaan sumber daya (manusia, keuangan, dll) yang tentu lebih baik dialokasikan bagi keperluan keluarga yang ditinggalkan. Ambil saja kasus di Tanimbar, ternak terutama babi adalah aset yang penting sebagai tabungan untuk menghadapi kebutuhan yang mendadak. Disisi lain, kondisi masyarakat masih memakai pola bertahan hidup yang subsisten. Jika kemudian aset/tabungan mengalir kepada kebutuhan adat yang kurang berpihak pada orang yang hidup, maka keberlanjutan kehidupan yang ditopang oleh kecukupan aset patut diragukan. Selain itu jika melihat kondisi keluarga yang ditinggalkan tentunya para tamu cukup mengerti jika tidak ada jamuan makanan/minuman sehingga tidak perlu menyiapkan logistik dengan jumlah yang cukup banyak apalagi mereka sedang berduka. Akan semakin memberatkan jika mereka juga harus menyiapkan segala keperluan makanan untuk malam harinya.

Tujuannya baik yaitu mendoakan orang yang berpulang, dan tanpa berusaha untuk tidak menghormati yang sudah tiada, ada baiknya merenungi ungkapan ‘bayi lahir tidak membawa apa-apa begitupun mati’. Justru yang penting bagi si-mati adalah doa yang terus dikirimkan sedangkan peninggalan harga, biarlah keluarga yang ditinggalkan menikmati untuk melanjutkan kehidupan.

4 comments:

Yudo said...

Bay, praktek itu sepertinya umum. Ketika religiusitas diyakini berpengaruh terhadap aspek kehidupan material, maka tradisi itu semacam tak terhindarkan. Tahlilan atau acara adat juga bagian dari exchange of invisible thing yang diyakini bisa berpengaruh terhadap kehidupan material. Karena itu, pendekatan yang material sulit untuk menjelaskan fenomena ini.

pelantjong maja said...

mungkin perlu ada perubahan paradigma mengenai hubungan agama dan konteks duniawi, reformasi teologi? apa ini yang membuat kita tidak bisa maju? insentif menabung justru difokuskan pada akhirat saja, padahal seharusnya agama bisa memerdekakan penganutnya dari kemiskinan.. *just a thought

Sastrawan Manullang said...

Saya hargai dan mungkin mengerti kepedulian penulis dan para komentator sebelum saya untuk memperbaiki keadaan ini.
Menurut hemat saya hanya, dan hanya, ada dua alasan yang sah yang dapat diterima untuk mengusulkan perubahan pada suatu praktik kebudayaan, yaitu (1) apabila ia merusak lingkungan, yang mencakup berbagai macam praktik penggunaan sumberdaya alam secara tidak lestari, dan (2) apabila ia berisi ketidakadilan sosial, yang mencakup berbagai macam praktik sosial di mana ada penindasan oleh satu pihak atas pihak yang lain.
Kita peduli dengan yang (1) karena kalau ada kerusakan bumi, di mana pun itu terjadi, cepat atau lambat dampaknya akan sampai kepada kita. Ingat saja, di alam ini 'everything is connected'. Dan kita peduli dengan yang (2) karena ikatan persaudaraan manusia. Penindasan kepada manusia, di mana pun itu terjadi, adalah penindasan kepada kita. Maka kaum tertindas harus kita bela. Agama-agama dan deklarasi PBB menyatakan bahwa semua manusia itu sama. Anda, mereka dan saya adalah sama.

Jadi kalau kedua hal di atas tidak ada, maka itu berarti mereka happy-happy saja dengan apa yang mereka lakukan. Kita saja yang tidak biasa dengan pemborosan yang tidak rasional itu (itu menurut kita!). Siapa tahu sistem sosial mereka bekerja sedemikian rupa sehingga semua ini tidak merugikan sebaliknya menguntungkan keberadaan mereka sebagai sebuah komunitas/masyarakat. Karena itu penelitian yang mendalam sangat sangat sangat diperlukan sebelum kita menilai, apalagi ingin mengubah, orang/kebudayaan lain sesuai dengan "selera" kita. Salam

pelantjong maja said...

pak sastrawan, terima kasih. membaca nama anda sepertinya saya teringat nama seorang penyair, adakah anda? menurut saya, praktek sosial di masyarakat yang kemudian 'dianggap' sebagai budaya tidak lain adalah produk dari kontruksi sosial. bahwa upacara kematian harus diperingati dengan ritual tertentu adalah juga konstruksi sosial. jika pak manulang membacanya sebagai sesuatu yang lumrah (mudah2an saya tidak salah membaca), maka pembacaan saya justru praktek upacara kematian secara tidak disadari telah menindas manusia secara terselubung. kemudian sistem sosial berusaha mencari pembenaran atas ritual seperti ini. poin saya adalah kontruksi sosial bisa dirubah hanya pertanyaannya secepat apa? saya setuju jika ini tidak bisa dirubah dalam satu malam.