Jun 1, 2007

the struggle over the land

It has been quite a while my attention in this blog swing to other topics. Now, I am trying to go back to my initial interest when I wrote this blog at the first time. The land is back on the agenda.

Escalation over dispute land has resulted in several tensions and losses as well. Very recently, four natives were killed in Pasuruan when they were head to head with Navy soldier (here). Before this, a high populated area in Meruya has been claimed by both PT Portanigra and hundred of people who hold official land certificate from national land board (BPN) (here). If the land is so important for the people, the question is why have there been little significant efforts to resolve this problem?

The patterns in the past have shown that the interests of capitalist were often hand in hand with the state in the way to appropriate land from the people (see my posting here). It was also common the use of military personnel to secure such interest besides military institutions were benefited from land allocation to run non-military business. Of course the processes of land grabbing have never as smooth as we think. There were always people who were expelled from the land but have no way to fight back. Indeed the powerful new order regime had succeeded to make land allocation going smooth.

I think this is the root cause of land conflicts, here I don’t consider personal land dispute as land conflicts. There is another issues of poor land administration that cause personal dispute, as I have been argued (here and here).

Do any of you want to discuss and answer my question?

Death ritual in Indonesia

Ada yang sama ketika membicarakan upacara kematian baik itu di kota maupun di daerah terpencil di Indonesia yaitu kematian adalah suatu yang sakral sehingga ada banyak upacara yang mengiringinya.

Saya ingin menceritakan upacara kematian di metropolitan Jakarta dan membandingkannya dengan upacara yang sama di kepulauan Tanimbar, sebuah kepulauan terpencil di utara kota Darwin, Australia. Terlepas dari faktor agama yang menjadi anutan masing-masing umat, keduanya mengarah pada fenomena yang sama, yakni peringatan upacara kematian selama beberapa hari dan menurut saya berlebihan.

Di sebuah kampung urban di Jakarta, kematian diperingati selama 7 malam tahlilan berturut-turut. Setiap malam, undangan yang datang disuguhi makanan/minuman selama prosesi bahkan pada malam tertentu tamu diberikan paket (nasi+lauk pauk) untuk dibawa pulang sedangkan pada malam lain hanya berupa kue saja. Saya melihat sendiri bagaimana kesibukan yang dilakukan keluarga yang ditinggalkan dibantu oleh beberapa tetangga untuk mempersiapkan makanan pada siang hari. Tidak berhenti sampai acara malam, beberapa orang diberi tugas untuk begadang hingga pagi di rumah duka dan tentu saja mereka disediakan kopi dan makanan secukupnya.

Di desa-desa kepulauan Tanimbar, kematian diperingati secara berbeda. Masyarakat masih menggunakan sistem adat duan lolat (saling memberi dan menerima) dalam upacara adat, termasuk kematian. Dalam kematian, lolat harus memberikan babi kepada duan dari keluarga yang meninggal. Sementara duan akan membalas dengan memberikan kain tenun kepada lolat tersebut. Pada hari ke-7 seluruh desa akan diundang ke rumah yang meninggal untuk menghadiri doa dan makan bersama. Pemberian babi dari lolat tadilah yang disuguhkan kepada tamu-tamu yang datang.

Sebagai satu siklus penting kehidupan manusia, kematian kadang diperingati secara berlebihan. Apa yang saya maksud berlebihan adalah penggunaan sumber daya (manusia, keuangan, dll) yang tentu lebih baik dialokasikan bagi keperluan keluarga yang ditinggalkan. Ambil saja kasus di Tanimbar, ternak terutama babi adalah aset yang penting sebagai tabungan untuk menghadapi kebutuhan yang mendadak. Disisi lain, kondisi masyarakat masih memakai pola bertahan hidup yang subsisten. Jika kemudian aset/tabungan mengalir kepada kebutuhan adat yang kurang berpihak pada orang yang hidup, maka keberlanjutan kehidupan yang ditopang oleh kecukupan aset patut diragukan. Selain itu jika melihat kondisi keluarga yang ditinggalkan tentunya para tamu cukup mengerti jika tidak ada jamuan makanan/minuman sehingga tidak perlu menyiapkan logistik dengan jumlah yang cukup banyak apalagi mereka sedang berduka. Akan semakin memberatkan jika mereka juga harus menyiapkan segala keperluan makanan untuk malam harinya.

Tujuannya baik yaitu mendoakan orang yang berpulang, dan tanpa berusaha untuk tidak menghormati yang sudah tiada, ada baiknya merenungi ungkapan ‘bayi lahir tidak membawa apa-apa begitupun mati’. Justru yang penting bagi si-mati adalah doa yang terus dikirimkan sedangkan peninggalan harga, biarlah keluarga yang ditinggalkan menikmati untuk melanjutkan kehidupan.