Mar 26, 2007

Ekonomi ala sopir angkot

Sebagai orang sekolahan kadang kita lupa kalau siapapun bisa menjadi murid dan guru pada saat yang bersamaan. Masih dengan topik yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini yaitu ekonomi transportasi.

Suatu sore dalam perjalanan pulang menuju stasiun Bogor, seorang sopir angkot memaparkan persoalan ekonomi kepada saya dalam bahasa yang sederhana. Dalam bahasa ekonomi, apa yang dibicarakan oleh sopir itu tidak lain adalah opportunity cost, scarcity dan price equilibrium. Inilah ringkasannya.

opportunity cost
Menjadi sopir angkot bisa jadi cukup menjanjikan (sebelumnya). Namun bagi beberapa orang, menjadi sopir angkot adalah pilihan terbaik yang ada. Dengan kata lain, opportunity cost profesi lain tidak sebanding dengan peluang yang disediakan jika memilih menjadi sopir angkot.

Kelangkaan dan ekuilibrium harga

Salah satu keluhan dari sopir angkot adalah kelangkaan relatif jumlah penumpang. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan jumlah angkot yang sedemikian pesatnya. Dampaknya jelas yaitu meningkatnya biaya mencari penumpang (terutama bensin) sehingga akan mengurangi pendapatan. Penyebannya adalah persaingan baik sesama angkot maupun dengan mode transportasi lain seperti sepeda motor-yang kini membeli motor bak membeli kacang goreng saja.

Harga trayek jalur ‘X’ menentukan jumlah angkot yang beroperasi pada jalur itu. Ada klasifikasi yang digolongkan jalur ‘gemuk’ (jumlah penumpang banyak dan tersedia setiap saat, misalnya jalur yang melalui pasar) yang situasinya kontras dengan jalur ‘kurus’. Pada jalur ‘gemuk’, harga trayek tentu akan lebih mahal. Apakah jumlah angkot di jalur ‘kurus’ lebih sedikit dibandingkan dengan jalur ‘gemuk’? Ada mekanisme alokasi (tentunya invisible hand) dimana ketika harga trayek jalur ‘kurus’ perlahan meningkat, pengoperasian angkot sudah tidak menguntungkan sehingga beberapa pengusaha akan mem-pensiun-kan angkot yang dioperasikannya (bisa juga dikembalikan ke dealer atau konversi ke mobil pribadi) dengan mempertimbangkan pendapatan, biaya dan investasi awal.

Sementara itu, kelebihan supply angkot pada dealer dapat disalurkan ke trayek ‘gemuk’ yang permintaannya cukup tinggi mengingat potensi keuntungan dari jalur tersebut. Apa yang terjadi dengan jalur ‘kurus’?. Harga trayek akan turun sehingga menarik investasi baru. Jika situasi di jalur ‘kurus’ jenuh kembali maka sebagian angkot akan secara sukarela ‘keluar’ dari jalur ‘kurus’ dan sebagian direlokasi ke jalur ‘gemuk’.

7 comments:

aroengbinang said...

masalah yg pelik, tetapi hidup memberikan pilihan2; cepat atau lambat para sopir di jakarta pun akan mengeluh kekurangan penumpang dengan smakin meluasnya jangkauan dan kenyamanan bus transjakarta dan lainnya. smoga ada jalan. salam.

guebukanmonyet said...

Nice blog you have. Okey, saya tidak keberatan untuk bertukaran link. Thanks.
www.JakartaButuhRevolusiBudaya.com

Berly said...

makanya perlu dipotong link antar penumpang dengan trayek.

Di negara2 maju (termasuk belanda tempat kita sama2 kuliah) supir publik transport dapat gaji tetap yg tidak terpengaruh jumlah penumpang sehingga tidak perlu ngetem, kebut2an dan pepet2an.

Trayek dan jumlah bis per trayek dialokasikan dgn prioritas public service pake sisem cross subsidi dari trayek penuh ke trayek sepi (plus subsidi dr pemerintah).

Ini masalah insentif. Straight and simple. Selama penumpang masih bayar ke supir maka perilaku pengemudi bis/angkot tidak akan berubah banyak.

pelantjong maja said...

berly: persoalannya menurut saya adalah menjadi sopir adalah pilihan terbaik dari yang terburuk. artinya ada isu pengangguran disini dan menjadi sopir angkot adalah salah satu jalan keluar dari pengangguran. penggajian sopir juga tidak selalu baik hasilnya, misalnya demo sopir ppd di jalarta disini

Berly said...

Dalam model ini berarti hanya ada 2 pilihan antara menganggur atau jadi supir angkot krn keterbatasan skill untuk kerja di bidang lain dan kurangnya premium migrasi untuk pindah ke kota lain di mana demand terhadap supir angkot masih tinggi (dan revenue > cost). Dinamika supply-demand dan migrasi hanya antar trayek gemuk dan kurus. Terdapat coordination failure sehingga supply terus bertambah sedangkan demand stagnan.

Seperti model2 ekonomi lain, validitas asumsi dan kesimpulan perlu di cek dengan komparasi ke realitas dan data empiris. Apa betul hanya ada 2 pilihan? Apa entry barrier untuk kerja di sektor lain? dapatkah ditembus dgn training singkat? berapa biayanya? kenapa sedikit yg menempuhnya? apakah pinjaman lunak dapat bermanfaaat? kenapa sedikit yg cari kerja di kota lain?

pelantjong maja said...

berly:
saya setuju kalau realitas jauh lebih pelik. saya sendiri tidak sepenuhnya setuju dengan asumsi '2 pilihan'. pilihan-pilihan yang ada sebenarnya cukup banyak, tetapi kemiskinan (tidak hanya aspek finansial) yang kemudian menyebabkan seseorang gagal untuk membuat pilihan-pilihan. dalam perspektif SLA (sustainable livelihood approach), livelihood merupakan kombinasi dari berbagai macam modal yaitu human, natural, physical, financial dan social capital (see here). soal solusi, saya sepakat tetapi pasar tenaga kerja bukan pasar yang sepenuhnya sempurna. justru di pasar ini, informasi dan network lebih berperan penting yang menyebabkan transaksi di pasar ini diwarnai oleh personalized transaction. seperti halnya pasar komoditi, apakah kita bisa menyediakan informasi untuk pasar kerja kelas bawah?(mungkin tidak ada yang mau karena cost > benefit).

freddy punyabatik said...

bagi saya yang penting hidup harus memberikan banyak manfaatnya bagi orang lain, supir angkot merupakan pekerjaan mulia juga, bayangkan kalo tidak ada supir angkot?