Nov 9, 2007

Telepon seluler & konversi BBM

Apakah ada hubungannya jaringan telpon seluler dengan program konversi minyak tanah ke gas? Silahkan berfikir sejenak sementara saya ceritakan bagaimana sinyal hp (handphone) mengatasi keterpencilan.

Saya pernah mengalami kenikmatan tidak punya hp di era semua orang merasa 'harus' memiliki hp ketika saya bekerja d kep. Tanimbar, salah satu pulau terpencil di maluku. Saya merasa bebas kemanapun tanpa khawatir orang lain tahu dan menghubungi saya. Juga saya tidak perlu deg-degan setiap mendengar dering hp. Alat komunikasi yang tersedia disana hanya telepon kabel & surat menyurat. Mengirim surat ke jakarta atau sebaliknya bisa mencapai 1 bulan, walaupun dikirim dg kilat khusus.

Sejak 2 tahun lalu, pemandangan orang menenteng hp sudah tidak asing lagi. Semenjak itu pula kesan remote sudah tidak terasa lagi. Lalu bagaimana dengan kantor pos? Agaknya kerjanya lebih ringan apalagi peran komunikasi tulis semakin tergantikan oleh sms. Bahkan ucapan hari besar keagamaan lebih murah dkirim lewat sms.

Tampaknya ini yang terjadi secara umum pada PT. POS ketika penetrasi telpon seluler merambah ke pelosok negeri. Pekerjaan yang berhubungan dengan core business (pengiriman surat & paket pos) PT. POS semakin sedikit sehingga tidak mengherankan ketika PT.POS masuk ke area yang tidak sepenuhnya berhubungan dngan core business-nya seperti distribusi kompor gas dalam program konversi energi.

Saya belum melakukan regresi apapun, tapi jika anda mau mencoba; kesuksesan program konversi minyak tanah kemungkinan dipengaruhi oleh penetrasi telpon seluler. Dengan demikian investasi jaringan seluler yang semakin luas akan menduking program konversi minyak tanah.

Nov 7, 2007

good and bad of global warming

Ini sebuah cerita yang saya dapat dalam sebuah workshop. Cerita ini tentang sejauh mana dampak global warning terhadap kehidupan manusia. Untuk memahami pemanasan global, mari kita ambil contoh sederhana. Setiap anda bepergian dengan kendaraan bermotor, asapnya akan dilepaskan ke udara bebas & atmosfer. Dalam konsentrasi yang kecil akumulasi polutan tidak membahayakan, sayangnya akumulasi itu sudah terjadi sejak revolusi industri dimulai. Yang membahayakan dari emisi gas adalah ketidakmampuan atmosfer melepaskan panas matahari ke luar angkasa karena terhalang kumpulan gas polutan tadi. Efeknya panas terpantul kembali ke bumi dan secara perlahan berkontribusi dalam pencairan es di kutub & pemanasan air laut. Itulah kenapa gas rumah kaca (GRK) disebut meminjam situasi sejenis di rumah kaca.

Air laut yang lebih hangat bukan sesuatu yang buruk. Kondisi ini memicu metabolisme yang lebih cepat termasuk perkembangbiakan spesies tertentu, contohnya squid (sotong, cumi-cumi dan sejenisnya). Banyak riset yang menunjukkan hal ini (disini, disini,). Apa artinya bagi penikmat seafood? Tidak perlu khawatir kekurangan cumi-cumi bahkan kini bisa menyantap lebih banyak karena ketersediaannya melimpah. Lalu? Yap tepat sekali, penikmat seafood tentu tahu konsekuensi kesehatan yaitu kolesterol. Semakin banyak konsumen cumi-cumi akan meningkatkan resiko kesehatan, anda harus bolak-balik ke dokter dong? Padahal pergi ke dokter juga naik kendaraan bermotor, dan itu artinya menambah GRK.
Moral cerita, dalam suatu sistem elemen-elemennya tidak selalu bergerak saling mendukung, kadang saling bertabrakan lalu kembali mengikuti pola-pola yang sudah ada. Jadi global warming tidak terlalu buruk, bukan?

Oct 31, 2007

Menolak pendatang

Besok (1 november 2007) pemkot DKI Jakarta akan melakukan operasi yustisi untuk mengurangi pendatang di ibukota. Dalam prakteknya, petugas akan memeriksa identitas kependudukan seperti kartu tanda penduduk. Konon yang melanggar ketentuan kependudukan harus membayar denda kurang lebih Rp. 7juta. Tujuannya operasi ini untuk menimbulkan efek jera supaya pendatang tidak mau datang ke jakarta.

Benarkah demikian?
Secara implisit target operasi yustisi adalah pendatang yang miskin. Mereka biasanya tidak punya identitas lengkap, tempat tinggal tetap bahkan pekerjaan tetap. Karena alasan timbulnya masalah sosial seperti gelandangan & pengemis, mereka selalu ditolak oleh pemerintah kota manapun. Seandainya mereka tertangkap, bagaimana mereka akan membayar denda 7juta itu? Lebih buruk, mereka bahkan tidak mampu membiayai kepulangan ke tempat asal jika pemkot mendeportasi mereka.
Sementara pendatang yang non miskin cenderung dimaafkan karena dianggap tidak mengganggu & justru memberikan kontribusi pada ekonomi lokal.

Kebijakan kependudukan seringkali kontroversial oleh karena itu harus diintegrasikan dengan kebijakan lainnya. Akar masalahnya bukan pada orang yang datang ke kota tetapi menjawab mengapa mereka migrasi ke kota? Berkurangnya lahan pertanian, lapangan kerja serta pertumbuhan yang terpusat di perkotaan adalah beberapa sebab kenapa terjadi urbanisasi. Untuk mengurangi pendatang diperlukan kebijakan yang memecahkan akar masalah urbanisasi sedangkan kebijakan kependudukan difokuskan saja pada isu pengendalian pertambahan penduduk secara alami.

Oct 20, 2007

Land Evolution (revisited)

Sejak 1995,hampir setiap tahun saya usahakan untuk pulang ke Denpasar,kota tempat saya di besarkan hampir 20 tahun. Di kota ini, setiap saya datang, semakin mnggeliat & mempercantik diri. Sekarang, mencari mal & pusat pertokoan tidak sesulit dulu, demikian pula jenis & kualitas barang yang di tawarkan semakin beragam.

Menjamurnya pusat pertokoan, mal dan sejenisnya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan penduduk yang melirik Denpasar sbg pusat ekonomi baru. Meningkatnya jumlah penduduk -termasuk para pendatang- merupakan ancaman tersendiri untuk konversi lahan pertanian. Dampak ini saya perhatikan sangat jelas terlihat polanya. Kota Denpasar tumbuh ke wilayah yang dulu disebut pinggiran. Rumah saya di daerah Padang Sambian, saat ini bukan pinggiran lagi. Saya ingat ketika rumah saya masih dlm proses pembangunan, hamparan sawah yang menghijau adalah pemandangan biasa & tidak jauh dari rumah ada sungai yang saya biasa memancing dsana. Bahkan, untuk mencapai rumah saya hanya ada satu jalan yang dibeberapa tempat masih belum diaspal.

Sekarang, jalan aspal hotmix sudah menembus kira-kira 50 meter dibelakang rumah saya. Lahan sawah yang dulu sejauh mata memandang,kini tinggal beberapa petak saja. Gantinya, bangunan rumah, hotel, pertokoan berdiri disana. Sering saya bertanya bagaimana nasib pemilik sawah yang dikonversi itu? Apakah sesuai dg prediksi Lenin dimana mereka menjadi wage laborer di kota atau menjadi orang kaya baru? Konon, beberapa orang menjadi sukses setelah menjual tanahnya sedangkan beberapa yang lain nasibnya tidak berubah bahkan lebih buruk. Tetapi yang pasti, nasib para buruh tani semakin tdak jelas karena penyempitan luas sawah mengakibatkan kompetisi mendapatkan pekerjaan semakin sulit. Sementara, mencoba pekerjaan dluar pertanian tidak mudah karena ada skill gaps yang tidak dimiliki padahal dibutuhkan oleh non farm jobs.

Cerita seperti ini terjadi dibanyak tempat lainnya di Indonesia. Yang pernah saya datangi, Kepulauan Tanimbar & Kabupaten Pelalawan Riau terlihat pola-pola sejenis. Yang sedikit berbeda adalah pengusaan atas tanah dikedua tempat tersebut masih didominasi oleh tanah adat (ulayat=Riau; petuanan=Tanimbar).

Dosen saya pernah bertanya dalam seminar tesis 'Kalau komersialisasi tanah itu tak bisa dihindari,lalu apa?'. Jawaban saya saat ini adalah yang paling penting tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat. Setidaknya ada 2 persoalan mendesak yakni lapangan kerja & ketahanan pangan. Petani & buruh tani mungkin sudah saatnya pindah pekerjaan ketika upah bertani lebih kecil upah d tempat lain. Untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan, perlunya campur tangan pemerintah untuk memberi insentif petani berproduksi lebih banyak. Untuk menghidari perpindahan tenaga kerja ke luar sektor pertanian, sektor ini harus atraktif. Caranya perlu ada campur tangan pemerintah untuk memberikan insentif agar petani mau berproduksi lebih banyak. Dengan kata lain membuat pendapatan petani lebih besar pendapatan di tempat lainnya sehingga dia tidak harus menjual tanahnya bahkan kalau perlu memperluas lahan garapannya. Paling tidak dua hal akan terpenuhi yaitu lapangan kerja dan ketahanan pangan .

Oct 11, 2007

happy ied mubaraq

I wish you all happy ied mubaraq,

Selamat Idul Fitri 1428 H,

despite all the difference we had, let's make our world better

so we can live in peace and harmony

Oct 4, 2007

tentang corporate social responsibility

Ini pengalaman saya melakukan assessment pada sebuah perkebunan kelapa sawit di Sumatra. Dalam assessment itu, perusahaan ingin mengetahui bagaimana dampak sosial akibat beroperasinya perusahaan sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan kepada konsumen, pemegang saham, masyarakat bahkan kepada lingkungan (bumi). Serba serbi CSR bisa dilihat disini.

Bicara mengenai perubahan sosial adalah ladang perdebatan karena tiap orang memandang perubahan dari sudut pandang yang berbeda. Dan itulah yang terjadi ketika tim mempresentasikan hasil temuan penilaian dampak sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa investasi skala besar membawa perubahan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitarnya. Setidaknya, masyarakat mengenal cara baru bertani dimana sebelumnya hanya mengenal perladangan dan kebun karet rakyat.

Disisi lain, perubahan ekonomi bukanlah satu-satunya perubahan yang terjadi. Relasi sosial antara masyarakat dan sumber daya ikut berubah. Contohnya konversi lahan menjadi kebun kelapa sawit telah menghilangkan akses masyarakat kepada tanah ulayat (adat), ditambah lagi komersialisasi lahan kepada pendatang karena nilainya meningkat sejalan beroperasinya perusahaan. Perubahan sosial seperti ini semakin sulit dibahas jika kemudian harus dibandingkan dengan perubahan ekonomi yang relatif dapat diukur secara moneter. Sulitnya lagi, perubahan sosial kadang irreversible sehingga tidak tergantikan dengan nilai uang manapun. Namun upaya pengukuran secara kuantitatif tetap bisa dilakukan namun ini bukanlah angka pasti, hanya menunjukkan indikasinya saja.

Kembali ke presentasi diatas, perusahaan secara implisit berusaha mempertahankan bahwa keberadaan investasi besar menguntungkan masyarakat sedangkan kami mencoba melihat bahwa selain manfaat ekonomi, terjadi perubahan lain yang mungkin bisa mengurangi keuntungan perusahaan dimasa depan. Inilah yang disebut tanggung jawab sosial perusahaan yang diejawantahkan bagaimana menjamin keberlanjutan usaha tanpa mengurangi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.

Sep 19, 2007

(jangan mengganggu) orang berbuka puasa

Bulan puasa diyakini banyak memberikan berkah kepada penganut yang menjalankannya. Tidak hanya dalam aspek religius, bulan puasa ikut menarik kegiatan ekonomi yang unik dan semarak khususnya hanya di bulan ini seperti pasar kaget ramadhan, tempat usaha dadakan di pinggir jalan yang menyediakan menu berbuka puasa yang bervariasi dll.

Ada yang menarik sewaktu saya melintasi sebuah kampus universitas swasta di daerah lenteng agung, ketika tiba waktu berbuka puasa sekelompok mahasiswa (dan mahasiswi) berdiri di tengah jalan sambil membawa spanduk "buka puasa gratis" dan membagi-bagikan air mineral. Secara aturan berlalu lintas, hal ini membahayakan baik kepada kelompok mahasiswa tersebut ataupun pengemudi kendaraan yang lewat. Walaupun secara niat dan maksud kegiatannya baik, sepertinya agama Islam sendiri tidak mengajarkan untuk melakukan kebaikan dengan mengakibatkan gangguan bagi orang lain. Saya kira, mereka cukup mendirikan tenda di pinggir jalan dan tidak perlu memperlambat laju lalu lintas dan menghimbau pengemudi untuk 'mau berbuka puasa'. Kalau puasa itu adalah ibadah yang sifatnya individu (hanya Tuhan dan manusia yang bersangkutan yang tahu) maka serahkan saja kepada individu kapan dan dengan apa mereka ingin berbuka. Kalau kemudian mereka terlambat berbuka karena satu dan lain sebab sesungguhnya hanya Tuhan yang tahu pahala seperti apa yang layak diberikan kepada individu. Kalau sudah begini, tampaknya umat kita (Islam) masih perlu belajar banyak mengenai cara-cara persuasif untuk berbuat kebajikan tanpa membuat orang lain 'worse off'.

Sep 2, 2007

Orang miskin (tak) layak dibela

Coba simak pendapat wakil rakyat berikut dalam menyikapi dua isu yang berbeda, keduanya dikeluarkan dalam waktu yang tidak jauh berbeda.

A. konversi minyak tanah

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Agung Laksono pada kesempatan jumpa pers di kantornya (27/8), menilai pemerintah telah gagal. ...Pemerintah dipandang tidak mampu mengantisipasi keterkejutan masyarakat karena minyak tanah yang telah membudaya sejak lama menjadi bahan bakar andalan akan tergantikan oleh gas.

...

Selain itu, Agung juga meminta agar semua kalangan turut mendukung suksesnya kebijakan konversi ini. Dia menyayangkan adanya sejumlah oknum yang memanfaatkan situasi sulit seperti ini demi keuntungan pribadi.


B. tarif jalan tol
DPR mendukung gugatan class action masyarakat dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) atas keputusan pemerintah menaikkan tarif tol.
...
class action merupakan salah satu jalan bagi publik untuk mencari keadilan. "Class action untuk menuntut pembatalan kenaikan tarif tol itu tidak bisa dihindari dan justru harus didukung karena pemerintah tampaknya tetap ngotot menaikkan tarif tol," kata Lukman
...
Hal senada diungkapkan Diah Defawatie Ande. "Beban masyarakat sudah begitu tinggi, pajak dikenakan pada setiap aktifitas kehidupan. ... Ia menilai, pemerintah dan perusahaan pengelola jalan tol sengaja menutupi perjanjian awal pembangunan jalan tol untuk memberikan keuntungan kepada pihak tertentu, tapi merugikan masyarakat.


menarik bukan? setidaknya ada 2 kata kunci yang menggelitik yaitu kata "keuntungan" dan "masyarakat" dimana pada kedua kasus diatas mewakili pandangan yang berbeda. Pertanyaannya kemudian masyarakat manakah yang diwakili oleh para wakil rakyat itu? idealnya adalah para konstituen yang memilih mereka sehingga mereka bisa duduk di senayan. Terlepas dari wakil rakyat diatas mewakili partai apa, pemilih datang dari berbagai latar belakang ekonomi. Seandainya dari data orang miskin sebanyak 37,17 juta orang semuanya mencoblos pada pemilu yang lalu, maka ini sudah cukup untuk menjadi alasan perjuangan di senayan. Tapi kenyataannya kembali ke pertanyaan awal saya diatas, siapa mewakili siapa (bandingkan dengan penduduk Jakarta (miskin dan tidak miskin) yang jumlahnya hanya 5 jutaan orang)? Sangat jelas pada isu tarif tol, masyarakat yang notabene mampu-lah yang diwakili dan layak diperjuangkan. Sedangkan pada isu konversi, masyarakat miskin layak menerima dampak konversi berupa kelangkaan minyak di pasaran.

Kedua, mengulas kata 'keuntungan' menimbulkan pertanyaan siapa yang untung dan siapa yang buntung? Pada kedua kasus, jelas yang buntung adalah masyarakat secara keseluruhan. Pada kasus tarif tol, kenaikan tarif akan ditransmisikan ke harga produk akhir mengingat biaya transportasi yang meningkat. Sedangkan pada kasus konversi, kelangkaan minyak berakibat berkurangnya daya beli masyarakat miskin selain dari sisi produsen, dapat meningkatkan harga 1 porsi nasi (misalnya warteg).

Bicara siapa yang untung, ini tantangannya! tidak mudah menelisik siapa yang mendapat keuntungan pada kedua kasus ini. Dalam setiap rantai produksi (kasus konversi) mereka menangguk keuntungan walaupun dalam besaran yang berbeda. Sedangkan tarif tol tampaknya akan menguntungkan pemerintah karena meningkatnya pendapatan jasa marga berarti setoran devidennya akan meningkat.

Menarik juga sambutan Burhanudin Abdullah mengenai paradox pembangunan "trickle up economy atau penghisapan ke atas" patut menjadi renungan. Masyarakat sudah lelah menjadi pihak yang 'buntung' melulu, lalu kapan 'untung'-nya???

Aug 31, 2007

Ganyang Malaysia...

Rame-rame ngomongin pemukulan wasit karate di Malaysia (disini), iseng-iseng browsing di google dan ini hasilnya:

224,000 hasil penelusuran untuk malaysia "illegal logging". (0.12 detik)
185,000 hasil penelusuran untuk malaysia tki. (0.10 detik)
62,800 hasil penelusuran untuk malaysia wasit indonesia. (0.16 detik)
49,100 hasil penelusuran untuk malaysia ambalat. (0.32 detik)
16,500 hasil penelusuran untuk ganyang malaysia. (0.06 detik)

Hasil pencarian ini menunjukkan skala dan kerumitan masalah yang dihadapi dalam hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia. Kalau bicara siapa salah apa, saya kira kedua negara sama-sama menyumbang terhadap munculnya masalah tersebut. Sekarang pilihannya adalah ketegasan kedua belah negara untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tertunda. Penyelesaian jalur hukum harus dikedepankan dengan mendorongnya melalui jalur diplomatik kedua negara. Jika tidak diantisipasi dengan segera, anarki
masyarakat yang berkedok nasionalisme untuk "menggayang Malaysia" bisa kembali terjadi.

Aug 26, 2007

keadaan darurat untuk kebakaran hutan

sebuah berita menarik dari media Indonesia (disini)
Yunani, Sabtu waktu setempat, mengumumkan negara dalam keadaan darurat, seiring jumlah korban tewas akibat kebakaran hutan yang paling tidak mencapai 49 orang.
....

"Hari ini adalah hari berduka. Ini adalah tragedi nasional," kata Karamanlis, Sabtu pagi, setelah pertemuan di Kota Sparta, Peloponnese.


sumber (disini)

kapan ya, pemimpin bangsa Indonesia mengumumkan keadaan serupa ketika bencana ekologis kebakaran hutan kerap terulang? salah satu contohnya ini kejadian terakhir.

Aug 9, 2007

Kenapa saya belum meng-konversi minyak tanah ke gas LPG?

Untuk alasan praktis dan cenderung konservatif sejak awal berumahtangga, saya menggunakan kompor minyak tanah. Saat ini pemerintah memperkenalkan program konversi minyak tanah ke gas dengan alasan pengurangan penggunaak BBM yang pada akhirnya mengurangi subsidi pemerintah terhadap minyak tanah (disini). Minyak tanah adalah produk yang mendominasi besaran subsidi, sekitar 75% (disini).

Ada beberapa alasan kenapa saya memilih menggunakan minyak tanah:
#1 harga terjangkau, termasuk infrastruktur pendukung seperti kompor tersedia cukup banyak di pasar
#2 mudah diperoleh, di sekitar tempat saya tinggal minyak tanah bisa dibeli di warung, toko ataupun penjaja minyak keliling. Salah satu keuntungan membeli minyak pada penjaja keliling adalah harganya lebih murah dibandingkan membeli di warung. Kapan-kapan kita ulas kenapa ini bisa terjadi.
#3 aman digunakan, pemakaian minyak tanah secara relatif beresiko lebih kecil dibandingkan pemakaian gas.

Tetapi saya mulai berpikir seandainya saya menggunakan gas LPG untuk memasak, keuntungan dan kendala apa saja yang mungkin saya temui?
#1 biaya yang lebih murah; dalam sebulan penggunaan minyak tanah, kami bisa menghabiskan Rp 73 ribu; sedangkan isi ulang LPG hanya Rp 55 ribu. Angka pemakaian LPG masih berupa asumsi jika pola memasak saat ini menghabiskan 1 tabung gas saja.
#2 investasi awal; untuk awal saya harus membeli kompor gas, selang tabung dan regulator serta tabung gas beserta isinya untuk pengisian ulang berikutnya. Setelah di total semuanya bisa menghabiskan antara Rp 300-500 ribu.
#3 mudah memperoleh tabung; rata-rata toko kelontong yang cukup besar menyediakan tabung LPG ukuran 15 kg ini. Bandingkan dengan ketersediaan tabung gas 3kg program konversi di pasar? Produksi tabung masih terhambat investasi (disini)
#4 resiko tinggi; jika tidak berhati-hati, kesalahan penggunaan dapat berakibat fatal. Untuk itu pengetahuan dan pengalaman dibutuhkan. Kejadian meledaknya tabung gas program konversi setidaknya menunjukkan 2 hal yaitu kualitas tabung yang buruk (disini) dan perlu waktu untuk merubah perilaku masyarakat dalam hal penggunaan gas.

Poin terakhir soal konversi minyak tanah adalah kelangkaan minyak tanah menjelang penerapan konversi secara nasional; Apakah dengan menghilangkan minyak tanah di pasar, orang akan menyerbu membeli gas? Jawabannya belum tentu! Siapa yang bermain di belakang kelangkaan minyak tanah? ini harus diungkap jika pemerintah ingin program konversi sukses.

Aug 8, 2007

Jalur Normal Membuat SIM

Ketika membuat SIM (surat izin mengemudi), banyak yang sengaja memilih menggunakan jasa calo (yang biayanya lebih mahal) dengan alasan agar SIM lebih cepat jadi. Akan tetapi melewati jalur normal tidak selambat yang dikira banyak orang. Ini pengalaman saya membuat SIM di salah satu kantor polisi di wilayah jabodetabek dengan memakai jalur normal.

Pertama-tama, saya harus melakukan cek kesehatan yang berlokasi disalah satu bagian di kantor kepolisian tersebut. Tanpa saya harus diperiksa, saya langsung diminta membayar Rp 20 ribu, opps! Selanjutnya, dengan membawa kuitansi dari bagian kesehatan saya pergi ke loket pembelian formulir SIM di bank dan membeli asuransi pertanggungan kecelakaan selama 5 tahun. Tertulis jelas di kaca loket: SIM baru=Rp 75 ribu; SIM perpanjangan=Rp 60 ribu; demikian juga asuransi dipatok pada harga Rp 15 ribu. Sampai tahap ini saya sudah menghabiskan Rp 110 ribu.

Setelah formulir diisi dengan lengkap, saya serahkan semuanya dibagian pendaftaran untuk menunggu panggilan ujian teori. Untuk ujian ini diharuskan menggunakan pensil 2B. Karena tidak membawa pensil, saya membelinya dengan harga Rp 2 ribu (yang sebenarnya mungkin hanya Rp 500,-). Di ruangan ujian teori, tidak ada yang spesial pada lembar jawaban, pemeriksaannya pun bukan menggunakan komputer seperti UMPTN tapi dengan cara manual. Apakah menjual pensil salah satu sampingan polisi?

Lulus dari ujian teori, saya pergi ke bagian ujian praktek dan membayar Rp 5 ribu untuk biaya sewa motor. Yang diujikan dalam ujian praktek adalah kemampuan melewati rintangan tanpa membuatnya terjatuh dan tanpa menurunkan kaki dari motor. Kelihatan mudah dilalui sampai seorang petugas memberikan contoh. Ketika dicoba ternyata tidak mudah, demikian juga beberapa orang peserta lain sesudah saya. Intinya kami gagal dan sesuai peraturan peserta harus kembali ujian praktek 1 minggu ke depan dan tanpa dipungut biaya tambahan. Agaknya saya harus kompromi dengan kesibukan saya minggu-minggu depan, lalu saya tanyakan apakah ada cara lain? Tanpa berbicara banyak, petugas di bagian ujian praktek menunjukkan kertas bertuliskan “100”. Saya berusaha menawar akan tetapi tidak ada tawar menawar. Jadi total uang yang saya keluarkan sudah mencapai Rp 217 ribu. Dari bagian ujian praktek, saya serahkan lagi formulir ke bagian pendaftaran untuk menunggu pengambilan foto SIM, sidik jari dan tanda tangan. Tidak lama, saya sudah dipanggil dan menerima SIM beberapa menit kemudian. Waktu yang saya habiskan sejak menginjak kantor kepolisian hingga menerima SIM kurang lebih 2,5 jam. Tidak terlalu lama saya kira.

Bandingkan dengan jalur via calo (petugas resmi maupun jasa pengurusan SIM kolektif), tarif untuk membuat SIM bisa mencapai Rp 310 ribu. Kenapa banyak yang memilih menggunakan jasa calo? Selama ini pengurusan SIM dikesankan sulit, berbelit-belit dan makan waktu yang lama. Sebagian alasan ini ada benarnya juga, contohnya tadi kegagalan saya pada ujian praktek. Rintangan yang harus saya lalui kelihatan sudah diatur sehingga tingkat kesulitannya cukup tinggi. Lalu kenapa petugas yang memberi contoh bisa melaluinya? Tentu saja kan mereka setiap hari berada di kantor itu dan memungkinkan mereka berlatih setiap hari. Seandainya saya punya peluang berlatih yang sama, maka uang Rp 100 ribu tadi tidak perlu saya berikan sebagai syarat kelulusan.

Kalo bisa jalur normal, kenapa harus lewat calo? Bagaimana dengan Anda?

Aug 4, 2007

Permen, Formalin dan Perdagangan Internasional

Makanan (permen, pasta gigi dan kosmetik) mengandung formalin dan bahan berbahaya dari China menjadi berita panas di Indonesia (disini, disini dan disini). Pemerintah Indonesia diminta mengawasi dan melarang impor makanan dari China. Tidak kurang akal, otoritas pengawas makanan di China membalas dengan melarang impor produk makanan Indonesia (disini).
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari fenomena ini?

#1 dalam perdagangan, prinsipnya saling menguntungkan. Jika pedagang A melarang memperdagangkan produk pedagang B maka B akan membalas tindakan yang sama terhadap produk A

#2 Pemerintah negara yang bersangkutan harus kreatif untuk mencari pasar baru bagi produk yang dilarang dan/atau mengawasi dan memperbaiki kualitas produk ekspor dari lini produksi sampai distribusi

#3 Seandainya menembus pasar baru sulit dilakukan, pilihan paling mudah adalah renegosiasi terselubung. Model penyelesaiannya di bawah tangan ini akan menghasilkan kesepakatan perdagangan tetap terjalin diantara kedua negara walaupun mengetahui hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan warga negara masing-masing.

#4 Pemerintah yang bermental pedagang, hanya peduli pada keuntungan dan jangan berharap ada kepedulian dan jaminan terhadap keselamatan dan kesehatan warga negaranya.

lalu kita akan ke arah mana??

ps: poin-poin diatas sebagian adalah kritik untuk tulisan seorang teman tentang manfaat perdagangan internasional

Jul 16, 2007

Mimpi Sepak Bola Indonesia

Saya tidak suka bola, dan tulisan ini saya buat dengan perspektif tersebut. Ada yang membuat saya bangga sekaligus heran ketika menyaksikan gempita kemenangan tim nasional atas FC Bahrain disambut dengan decak kagum, kemudian seketika timbul kegeraman-yang untuk beberapa kalangan seakan berlebihan- ketika tim nasional dikalahkan oleh FC Arab Saudi.

Saya merasa bangga karena kemenangan yang diraih adalah buah dari suatu kerja keras. Sudah lama kita menunggu dan bermimpi akan memiliki satu tim sepakbola yang diandalkan dan dibanggakan. Kemenangan dengan FC Bahrain menunjukkan hal ini. Belum pernah rasanya gelombang dukungan mengalir untuk kesebelasan nasional sebelumnya, bahkan SBY pun bersedia duduk di podium yang sama untuk menonton laga kedua.

Sayang, laga kedua timnas kalah dari FC Arab Saudi. Kegeraman beberapa pihak atas kinerja wasit saya pikir berlebihan. Seandainya timnas tetap menang dengan wasit yang 'dianggap' berat sebelah, akankah kita protes? Mudah-mudahan menyalahkan wasit bukan upaya untuk mencari kambing hitam kekalahan timnas.

Sudahlah! apa yang sudah dicapai menurut saya sudah cukup baik dengan mempertimbangkan track record timnas sebelumnya. Ini adalah suatu prestasi dan kenapa tidak menggunakan momen piala asia ini untuk mulai membenahi persepakbolaan kita? Setidaknya sudah terbukti bahwa generasi timnas saat ini mampu mencetak prestasi. Daripada mengeluh soal perwasitan yang sudah pasti bukan menjadi 'lahan permainan' kita.

Efek positifnya adalah piala asia telah menjadi satu gelombang pemersatu bangsa, belum pernah begitu banyak orang mengelu-elukan timnas sepakbola kita. Disadari atau tidak, nasionalisme kita tiba-tiba terpacu begitu kencang.

Jun 1, 2007

the struggle over the land

It has been quite a while my attention in this blog swing to other topics. Now, I am trying to go back to my initial interest when I wrote this blog at the first time. The land is back on the agenda.

Escalation over dispute land has resulted in several tensions and losses as well. Very recently, four natives were killed in Pasuruan when they were head to head with Navy soldier (here). Before this, a high populated area in Meruya has been claimed by both PT Portanigra and hundred of people who hold official land certificate from national land board (BPN) (here). If the land is so important for the people, the question is why have there been little significant efforts to resolve this problem?

The patterns in the past have shown that the interests of capitalist were often hand in hand with the state in the way to appropriate land from the people (see my posting here). It was also common the use of military personnel to secure such interest besides military institutions were benefited from land allocation to run non-military business. Of course the processes of land grabbing have never as smooth as we think. There were always people who were expelled from the land but have no way to fight back. Indeed the powerful new order regime had succeeded to make land allocation going smooth.

I think this is the root cause of land conflicts, here I don’t consider personal land dispute as land conflicts. There is another issues of poor land administration that cause personal dispute, as I have been argued (here and here).

Do any of you want to discuss and answer my question?

Death ritual in Indonesia

Ada yang sama ketika membicarakan upacara kematian baik itu di kota maupun di daerah terpencil di Indonesia yaitu kematian adalah suatu yang sakral sehingga ada banyak upacara yang mengiringinya.

Saya ingin menceritakan upacara kematian di metropolitan Jakarta dan membandingkannya dengan upacara yang sama di kepulauan Tanimbar, sebuah kepulauan terpencil di utara kota Darwin, Australia. Terlepas dari faktor agama yang menjadi anutan masing-masing umat, keduanya mengarah pada fenomena yang sama, yakni peringatan upacara kematian selama beberapa hari dan menurut saya berlebihan.

Di sebuah kampung urban di Jakarta, kematian diperingati selama 7 malam tahlilan berturut-turut. Setiap malam, undangan yang datang disuguhi makanan/minuman selama prosesi bahkan pada malam tertentu tamu diberikan paket (nasi+lauk pauk) untuk dibawa pulang sedangkan pada malam lain hanya berupa kue saja. Saya melihat sendiri bagaimana kesibukan yang dilakukan keluarga yang ditinggalkan dibantu oleh beberapa tetangga untuk mempersiapkan makanan pada siang hari. Tidak berhenti sampai acara malam, beberapa orang diberi tugas untuk begadang hingga pagi di rumah duka dan tentu saja mereka disediakan kopi dan makanan secukupnya.

Di desa-desa kepulauan Tanimbar, kematian diperingati secara berbeda. Masyarakat masih menggunakan sistem adat duan lolat (saling memberi dan menerima) dalam upacara adat, termasuk kematian. Dalam kematian, lolat harus memberikan babi kepada duan dari keluarga yang meninggal. Sementara duan akan membalas dengan memberikan kain tenun kepada lolat tersebut. Pada hari ke-7 seluruh desa akan diundang ke rumah yang meninggal untuk menghadiri doa dan makan bersama. Pemberian babi dari lolat tadilah yang disuguhkan kepada tamu-tamu yang datang.

Sebagai satu siklus penting kehidupan manusia, kematian kadang diperingati secara berlebihan. Apa yang saya maksud berlebihan adalah penggunaan sumber daya (manusia, keuangan, dll) yang tentu lebih baik dialokasikan bagi keperluan keluarga yang ditinggalkan. Ambil saja kasus di Tanimbar, ternak terutama babi adalah aset yang penting sebagai tabungan untuk menghadapi kebutuhan yang mendadak. Disisi lain, kondisi masyarakat masih memakai pola bertahan hidup yang subsisten. Jika kemudian aset/tabungan mengalir kepada kebutuhan adat yang kurang berpihak pada orang yang hidup, maka keberlanjutan kehidupan yang ditopang oleh kecukupan aset patut diragukan. Selain itu jika melihat kondisi keluarga yang ditinggalkan tentunya para tamu cukup mengerti jika tidak ada jamuan makanan/minuman sehingga tidak perlu menyiapkan logistik dengan jumlah yang cukup banyak apalagi mereka sedang berduka. Akan semakin memberatkan jika mereka juga harus menyiapkan segala keperluan makanan untuk malam harinya.

Tujuannya baik yaitu mendoakan orang yang berpulang, dan tanpa berusaha untuk tidak menghormati yang sudah tiada, ada baiknya merenungi ungkapan ‘bayi lahir tidak membawa apa-apa begitupun mati’. Justru yang penting bagi si-mati adalah doa yang terus dikirimkan sedangkan peninggalan harga, biarlah keluarga yang ditinggalkan menikmati untuk melanjutkan kehidupan.

May 10, 2007

New record for deforestation

How much the annual lost of Indonesian forest is remains debatable. Recently, FAO released data on deforestation which submitted to Guiness Book of Records (GBoR) mentioned Indonesia as the fastest forest destroyer in 2007 (here). Forest has been lost about 1,9 million hectares annually or 2 percent of the remaining 2005 forest, according to FAO. But everyone seems pointing government who solely responsible for the lost of forest which I think it is not necessary so.

Deforestation doesn’t just happen anyway. Many factors have been argued to be the root cause of deforestation (see here). Two of them are the growing demand of commercial commodity for instance palm oil plantation. Second, timber demand has contributed to deforestation in many ways.

Therefore blaming just GoI may ignore the fact that there are other explanations on why forests are dissapearing? On economic point of view, demand on commodity has affected resource allocation and to overcome problem like deforestation, reducing demand would be one of the alternatives. Controlling demand would induce producer to reduce its capacity to supply. So we need some billateral and global cooperation to reduce demand of commodities derived from converted forest such as palm oil and in the other hand, governments who have large area of forest should improve forest management in their own territory. In this light, the lost of forest is not only my responsibility but also yours; it is not only developing countries but also developed countries. In order to be fair, GBoR should find new category of award for the countries who consume a lot of derived products from converted tropical forests together with forest destroyer category.

Apr 26, 2007

Dilema korban lumpur panas sidoarjo

Ada yang mengusik pikiran saya ketika mengikuti perkembangan kasus penuntutan ganti untung korban lumpur Lapindo. Intinya para korban, terutama yang akhir-akhir ini berdemo di Jakarta meminta ganti untung penuh (GUP). Sedangkan pemerintah memutuskan untuk memberikannya secara bertahap seperti korban lumpur terdahulu dengan komposisi 20% dibayar dimuka. Disinilah letak dilema korban lumpur, antara menerima usulan ganti untung bertahap (GUB) atau bertahan dengan tuntutan ganti untung penuh?

Situasi korban lumpur tampaknya mirip situasi dalam dilema tahanan (prisoner’s dillema). Singkatnya, jika ada 2 tahanan yang diinterogasi secara terpisah, mereka menghadapi dilema apakah sebaiknya mereka ‘mengaku’ atau ‘tidak mengaku’. Jika salah satu tahanan mengaku sedangkan tahanan lain bungkam, maka hukuman maksimal hanya dijatuhkan kepada tahanan yang bungkan sedangkan tanahan yang mengaku, dibebaskan dari tuduhan. Sedangkan jika keduanya mengaku maka keduanya akan mendapat hukuman yang lebih rendah. Bahkan, jika keduanya memilih ‘bungkam’ maka keduanya akan bebas. Masalahnya kedua tahanan ditempatkan secara terpisah dan tidak mungkin untuk membuat kesepakatan diantara mereka. Menghadapi dilema seperti ini, kedua tahanan akhirnya memilih mengaku dan sebagai hasil akhir, mereka tetap mendapat hukuman tetapi lebih ringan.

Tantangan bagi para korban lumpur saat ini adalah memperkuat aksi kolektif secara efektif untuk mencapai tujuan GUP. Berkeliarannya kelompok oportunis di dalam kelompok besar mengindikasikan kemiripan situasi dengan prisoner’s dilemma. Jika sebagian kelompok menyetujui frame GUB maka keseimbangan kelompok besar akan goyah. Dampaknya jelas, kelompok besar akan menghitung ulang peluang memperoleh ganti untung secara cepat. Sebab ada kemungkinan mereka yang bertahan pada skema GUP tidak mendapatkan kompensasi sama sekali. Pertama, karena pemerintah pura-pura tuli sehingga mengambangkan keputusan. Jika berlarut-larut apalagi sampai dengan pergantian kepemimpinan (presiden), semakin kecil kemungkinan untuk memperoleh kompensasi.

Kedua, memperjuangkan GUP pada dasarnya membutuhkan energi ekstra luar biasa: fisik, financial maupun non fisik. Jika kondisi ini tidak terpenuhi, perjuangan bisa berhenti ditengah jalan. Dengan kondisi korban saat ini, adalah rasional bagi korban lumpur menyepakati skema GUB. Dalih ‘life must go on’ setidaknya tepat pada saat ini. Namun tidak boleh terlena untuk menagih sisa 80% GU yang sudah dijanjikan saat ini.

Mari, kita mengawal kesepakatan ini sampai tahun depan, dan pihak Lapindo harus membayar sisanya tanpa kecuali.

Apr 5, 2007

Who’s the boss in a train’s musician group?

My friend have told me that riding the train everyday makes you meet the same passenger, street-traders (asongan), beggars as well as train’s musicians. This comes to my observation, a train’s musician group who attracts my attention every time they play. They play good dangdut music, skillful as well as serious (they carry all heavy electric equipments). The group’s name is Yunita group as it is written in every property they carried. What makes me interested in observing this group? Once, I saw them arguing each other in front of passengers, some women were scared if the fight really happened. It was over after somebody (later I know him as a group’s leader) made them calm down. Yeah, I missed their show that day.

My question after this fight was who’s the boss? This brought me to observe and conclude the roles of each personnel in the group based on what he/she carry and/or play. The group consists of several personnel based on instruments they play namely rhythm guitar, bass guitar, lead guitar, small drums, hand-percussion (kecrekan) and mixer. Supported personnel are part of the group whose jobs are carrying large speakers, personnel’s guitars and equipments such as batteries. Two female singers are rotating in every song they played.

Assuming that relationship among the group members like a circle, let’s start from the distant one. They are the support personnel; some of them are very young. It is sensible based on their roles in the group, they are still ‘anak bawang’. Perhaps, they expect one day they can upgrade their status as they get more trust from the superior member; they may carry important peripherals such as guitars or mixer.

Next circle is the personnel whose part of the group as a member. They are the singers, drummer, percussionist and rhythm guitarist. Closer circle to the centre are the money collector, the mixing-man and the bassist. The bassist is a quite guy and in some ways he just wants to play music. The money collector plays an important role since he receives and collects the money from the passengers. He might miss use the money if he likes; therefore he builds his important role in the group. The mixing-man is emotional and he seeks acknowledgement from the members. Moreover, his skills using mixer in producing good sounds shows that the group performance would not be enjoyable without him. Lastly, the centre of the groups is the lead guitarist. In terms of experiences and age, I think he deserves to be the leader of this group.
Ok, money collector is coming and it is my turn to give my contribution..

Mar 26, 2007

Ekonomi ala sopir angkot

Sebagai orang sekolahan kadang kita lupa kalau siapapun bisa menjadi murid dan guru pada saat yang bersamaan. Masih dengan topik yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini yaitu ekonomi transportasi.

Suatu sore dalam perjalanan pulang menuju stasiun Bogor, seorang sopir angkot memaparkan persoalan ekonomi kepada saya dalam bahasa yang sederhana. Dalam bahasa ekonomi, apa yang dibicarakan oleh sopir itu tidak lain adalah opportunity cost, scarcity dan price equilibrium. Inilah ringkasannya.

opportunity cost
Menjadi sopir angkot bisa jadi cukup menjanjikan (sebelumnya). Namun bagi beberapa orang, menjadi sopir angkot adalah pilihan terbaik yang ada. Dengan kata lain, opportunity cost profesi lain tidak sebanding dengan peluang yang disediakan jika memilih menjadi sopir angkot.

Kelangkaan dan ekuilibrium harga

Salah satu keluhan dari sopir angkot adalah kelangkaan relatif jumlah penumpang. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan jumlah angkot yang sedemikian pesatnya. Dampaknya jelas yaitu meningkatnya biaya mencari penumpang (terutama bensin) sehingga akan mengurangi pendapatan. Penyebannya adalah persaingan baik sesama angkot maupun dengan mode transportasi lain seperti sepeda motor-yang kini membeli motor bak membeli kacang goreng saja.

Harga trayek jalur ‘X’ menentukan jumlah angkot yang beroperasi pada jalur itu. Ada klasifikasi yang digolongkan jalur ‘gemuk’ (jumlah penumpang banyak dan tersedia setiap saat, misalnya jalur yang melalui pasar) yang situasinya kontras dengan jalur ‘kurus’. Pada jalur ‘gemuk’, harga trayek tentu akan lebih mahal. Apakah jumlah angkot di jalur ‘kurus’ lebih sedikit dibandingkan dengan jalur ‘gemuk’? Ada mekanisme alokasi (tentunya invisible hand) dimana ketika harga trayek jalur ‘kurus’ perlahan meningkat, pengoperasian angkot sudah tidak menguntungkan sehingga beberapa pengusaha akan mem-pensiun-kan angkot yang dioperasikannya (bisa juga dikembalikan ke dealer atau konversi ke mobil pribadi) dengan mempertimbangkan pendapatan, biaya dan investasi awal.

Sementara itu, kelebihan supply angkot pada dealer dapat disalurkan ke trayek ‘gemuk’ yang permintaannya cukup tinggi mengingat potensi keuntungan dari jalur tersebut. Apa yang terjadi dengan jalur ‘kurus’?. Harga trayek akan turun sehingga menarik investasi baru. Jika situasi di jalur ‘kurus’ jenuh kembali maka sebagian angkot akan secara sukarela ‘keluar’ dari jalur ‘kurus’ dan sebagian direlokasi ke jalur ‘gemuk’.

Mar 15, 2007

Train Diaries

For some reasons, I still use public transportation such as train anywhere I go including to work. First, I have neither a car nor a motorcycle; second, train offers cheap ticket and relatively fast compared to other means of transportation; and third, it brings me an advantage of immersing myself to the life of economy class’s people in this city.


Suddenly, I remembered an inspiring movie I watched during the beginning of my study in Holland. It was a movie about young Che Guevara with his friend, Alberto Granado, traveled across Latin America using motorcycle, “Motorcycle Diaries”. The movie was invigorating, for me, because the trip had opened their mind of what happened in the reality of Latin America. And the reality was far from what the story told in the books.

In one scene, Che met a community consisted of two groups who lived separately. The reason was one group was in poor health so in order not to spread the disease to the others, one had to be exiled to the island in front of the village (I guess the village was close to the lake or something like that). Having seen this, Che couldn’t accept since he was a medical student, instead of treat them with proper therapy, exclusion didn’t solve the problem. Then he swam to the island although he knew that he wasn’t a good swimmer. In short, he stayed there to give the group a treatment.

After all, I am unrivaled to Che but let’s take his spirit. May be one day my journey will become train diaries, why not?

Mar 8, 2007

Bogor tanpa angkot

Bogor terkenal dengan bermacam julukan seperti kota pensiunan, karena banyak pensiunan (terutama dari jakarta) yang memilih menghabiskan masa tua di Bogor. Ada lagi julukannya yaitu kota angkot, saking berjubelnya angkot di jalanan kota. Sebagai salah satu transportasi publik yang tersedia di dalam kota, angkot menjadi masalah tersendiri karena menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas di jalan. Mungkinkah Bogor bebas dari angkot?

Hampir setiap hari saya menggunakan angkot untuk mengantar dari stasiun Bogor ke tujuan di daerah SBJ (kependekan dari sindang barang jero). Ada banyak pertanyaan menarik dari observasi singkat ketika menunggu angkot dan melihat angkot berebut penumpang di sekitar Jembatan Merah. Kebanyakan angkot yang ngetem (menunggu penumpang) ternyata tidak penuh terisi penumpang, sekitar 3-7 orang saja dan sepanjang perjalanan pun si-angkot hanya beberapa kali saja menaikkan penumpang. Kadang sampai di tujuan, penumpang tinggal seorang saja, seperti yang sering saya alami. Saya heran dengan situasi persaingan angkot untuk menaikkan penumpang, ternyata jumlah angkot berpotensi bertambah terus setiap tahunnya (ada faktor kemudahan untuk mendapatkan kendaraan untuk angkot+izin trayeknya); sehingga tidak heran predikat kota angkot tetap melekat hingga kini. Lalu insentif apakah yang mendorong pengusaha angkot untuk bertahan di sektor transportasi ini?

Seorang sopir angkot (Mr X) bercerita kepada saya ketika jumlah angkot masih belum sebanyak sekarang (awal 1990-an), pendapatan dari angkot cukup kompetitif dibandingkan pekerja pabrik yang berketrampilan seadanya. Disamping itu uang setoran kepada pemilik usaha angkot tidak setinggi saat ini yang mencapai Rp 100 ribu per hari. Jumlah ini masih mungkin tercapai untuk kondisi sekarang dengan asumsi penumpang penuh (10 orang maksimal); tiap penumpang membayar Rp 2.000/orang; maka sekali jalan akan memperoleh Rp 20 ribu. Sedangkan untuk 5 rit (1 rit = 1 kali pergi pulang), seorang sopir sudah mengantongi uang setoran. Di luar itu, merupakan pendapatan yang dibawa pulang (biasanya setelah dikurangi dengan biaya bensin dan pungutan-pungutan). Banyaknya rit untuk satu angkot akan tergantung kondisi lalu lintas (kemacetan) dan lamanya antri penumpang di terminal. Tambahan lagi, jika satu rit membutuhkan waktu 1 jam, maka jam kerja sopir kurang lebih hanya 6 jam sehari. Menjadi sopir angkot benar-benar profesi yang prospektif, bukan?

Tunggu dulu! Life is not that easy. Para sopir menghadapi berbagai kendala antara lain biaya ekstra yang harus dikeluarkan untuk pungutan di jalan, dan itupun cenderung liar. Sopir lain (Mr Y) menceritakan bahwa ia harus membayar seribu-dua ribu perak setiap kali memasuki areal terminal dan mereka diharuskan mengantri untuk menaikkan penumpang. Pungutan-pun belum habis karena ketika penumpang terisi penuh maka sopir harus membayar calo (orang yang mencarikan penumpang dengan berteriak) atas jasanya itu. Pungutan seperti inilah yang menggerus potensi take-home income dari sang sopir. Kedua, banyaknya angkot menambah semrawutnya sistem transportasi dalam kota sehingga dalam waktu 6 jam, si-angkot belum tentu mencapai target sejumlah 5 rit untuk menutupi uang setoran. Ketiga, kompetisi untuk memperoleh penumpang semakin mempersulit memenuhi target pendapatan dalam 1 rit-nya. Di tambah lagi tersedianya alternatif transportasi yaitu sepeda motor yang akhir-akhir ini kepemilikannya dipermudah dengan berbagai fasilitas kredit. Keempat, menjadi sopir angkot adalah lapangan kerja ditengah dampak pengangguran pasca krismon. Banyak sopir yang mengeluh tidak mendapatkan pendapatan yang cukup, tetapi kondisi pasar tenaga kerja tidak fleksibel sehingga pekerjaan lain diluar sopir angkot belum tentu tersedia sesuai dengan ketrampilan yang dimiliki. Kelima, bisnis angkot tetap menarik bagi pengusaha (pengusaha angkot skala besar: ada yang mencapai 30 buah). Bisnis ini juga didukung oleh dealer mobil yang menyediakan mobil sekaligus trayeknya. Harga mobil+trayeknya adalah dua kali lebih tinggi dari harga harga normal senilai 65 juta. Tidak seluruhnya merupakan margin dealer, sebagian merupakan bagian DLLAJ yang berwenang mengeluarkan trayek. Diatas itu semua, instansi di bawah tidak akan berperan tanpa ada campur tangan instansi diatasnya. Dalam hal ini pemkot Bogor juga ikut andil pertumbuhan jumlah angkot di jalan-jalan kota. Tidak dapat dipungkiri, pendapatan dari pengurusan trayek merupakan ladang bagi pemkot untuk mengumpulkan PAD.

Siapa yang untung? Kecenderungan umum bahwa konsumen berada pada posisi yang dirugikan terutama dari segi kenyamanan dan waktu yang terbuang karena lalu lintas yang semrawut. Disisi lain banyaknya armada angkot dapat menguntungkan konsumen dari segi tersedianya pilihan yang luas. Para sopir tidak jauh kondisinya karena mereka digencet dari berbagai arah. Sopir hanyalah pekerja bagi pengusaha angkot (yang rentan PHK)dan di sepanjang jalan harus berhadapan dengan pungutan liar. Entah mengalir kemana, yang jelas pungutan itu dinikmati juga oleh oknum polisi. Kecuali sopir yang merangkap pemilik angkot, mereka mempunyai sedikit keleluasaan; dengan manajemen yang baik cicilan angkot dapat ditutupi dari penghasilan sehari-hari. Pengusaha dealer, DLLAJ dan pemkot adalah pihak yang paling diuntungkan terkait dengan harga trayek yang cukup tinggi dan diminati oleh investor angkot. Dari aliran ini saja, belum terhitung kebocoran yang memungkinkan salah satu atau bahkan aktor diluar ketiganya mendapatkan keuntungan tambahan. Dan hidup di jalan memang tidak selunak dibalik meja.

Feb 20, 2007

Queue… please!

Very recently, we saw some queue drama. People get in line for having cheap rice from market operations (MOs) held by BULOG. The rice price climbed to more than Rp 5000 after flooding inundated Jabotabek area several weeks ago. This is not the end of the story, hundred hectares of new planted paddy field area were also flooded hence the farmers need to replant with a new seed, another costs for the farmers.

Then rice was suddenly missing from the market, some said that the stock was channeled to Jakarta as a first priority. Well, it happens many times where Jakarta is prevented from instability especially from economic shocks. Hence the government undertakes MOs to stabilize the price. What happened with the price?

The rice price is reluctant to fall even though MOs have been held regularly in many places. The rice is always sold out although many people stand in line, and some of them end up with an empty hand. Is the rice not enough? Or those who need rice are many?

Maybe there are numerous rice-eaters need to be fed and they can’t afford it at current price, so they are trying to get one-two sacks of rice at cheaper price. The rice probably is not enough since MOs are miss-targeted. Instead of bought by beneficiaries (poor people), the rice has been channeled back to rice traders through some middlemen (calo/joki). Of course they will sell it again at higher price, another profit for the traders.

Is there something wrong with the MOs? Nothing! This is part of government’s job to let the price is not only driven by the market. Besides, price of goods should be affordable for poor people. The mistake was it is not designed carefully in order to prevent rent seeker like some traders above. Everyone can get rice as long as they are in line regardless they are traders or all of them are family members. Also no regulation of how many kgs can someone buy rice from MOs. Not surprisingly, one person could carry 20 kgs but in other places one person got small sack of 5 kgs. The worst was the same people got back again to the line expecting another run to accumulate the rice. Another miss targeted?

Another drama also took place last Saturday and Sunday due to Chinese New Year (Imlek) in Vihara and around Chinese residents. Poor people were queuing expecting for ang pao (money) as part of essential ceremony during the festival. Interestingly, some wealthy people made a system to reduce rent seeking behavior. Those who have got the ang pao were marked by a kind of ink.

I remember in the last general election (2004) that KPU used permanent ink which last almost for 3 days after somebody gave their vote. So why don’t government use the same system for improving MOs?