Oct 19, 2014

Dilema kesejahteraan petani sawit

Petani yang kita bayangkan seringkali digambarkan miskin dan hanya punya lahan yang seadanya. Tidak heran profesi petani menjadi kurang populer dibandingkan profesi lainnya seperti akuntan, arsitek dll.

Saya berkesempatan menemui petani sawit di Sanggau & Sintang, Kalimantan Barat, cerita mereka beragam soal akses lahan dan kemiskinan. Di wilayah ini dulunya kelapa sawit dikenalkan bersama program transmigrasi dengan dua tujuan yaitu meratakan penyebaran penduduk dan melalui program ini transmigran mendapat akses lahan dan lahan menjadi produktif. 

Dampak terhadap masyarakat lokal
Program transmigrasi punya plus dan minus. Minusnya program ini mengasumsikan masyarakat tempatan akan menerima program dan menyatu dengan pendatang. Kenyataannya tidak selalu dan ini sering memicu konflik sosial. 

Kedua, soal tanah yang di'bagi'kan kepada transmigran sesungguhnya bukan tanah bebas. Ada hak masyarakat tempatan (adat dsb) yang secara implisit ada namun secara eksplisit tidak diakui oleh negara. Soal tanah-pun merupakan potensi gesekan sosial.

Kehidupan petani sawit
Petani sawit dibangun melalui model inti-plasma dimana adanya kebun inti yang dikelola perusahaan akan membantu kebun plasma yang diusahakan  petani. Namun syaratnya petani harus punya lahan untuk ditanami sawit. Sebaliknya, para transmigran  mendapat pem'bagi'an lahan dimana sebagian dibuat kebun inti, kebun petani, lahan tanaman pangan & pemukiman. 

Skema penyerahan lahan ini semakin berkembang. Pola kemitraan petani & perusahaan mensyaratkan petani menyerahkan lahannya dengan pembagian 70-80% menjadi bagian perusahaan dan menyisakan 20-30% lahan untuk petani. Dan dalam skema ini petani tidak tahu dimana lokasi kebun mereka diareal konsesi karena  kebun dikelola satu atap (satu manajemen). Akibatnya, petani hanya akan menerima bagi hasil tanpa perlu berkeringat mengelola kebunnya sendiri  (setelah  dipotong biaya pembuatan kebun dll). Kebun plasma sepenuhnya dibawah pengelolaan manajemen perusahaan (pemupukan, pembersihan lahan dll). Namun petani bisa bekerja dikebun (inti/plasma) dan tenaga mereka dinilai setara upah.

Lahan sebagai sumber kesejahteraan
Cerita dari lapangan menunjukkan bahwa lahan masih menjadi sumber kesejahteraan. Kepemilikan kebun sawit berbasis kepada seberapa besar individu punya akses ke lahan. Ada masyarakat yang tidak menanam sawit karena tidak punya lahan atau lahan mereka sudah dijual kepada tetangga atau orang lain. 

Kesejahteraan petani pada gilirannya merupakan hasil gabungan dari faktor lahan, input, tenaga kerja dan lain sebagainya. Di lapangan, kesejahteraan mereka juga ditentukan oleh struktur pengelolaan sawit antara perusahaan & petani. Kelapa sawit (ditingkat TBS) mempunyai karakteristik pasar dengan pembeli yang terbatas dan petani hanya nrimo sebagai price taker. Akibatnya harga bisa ditekan oleh "komite penentuan harga" yang kebanyakan terdiri dari pengusaha. 

Tidak hanya itu, petani yang mengikuti skema sawit bagi hasil (dijuluki  petani berdasi - karena hanya menerima bagi hasilnya tanpa kerja) berada dalam posisi yang rentan karena petani tidak mengetahui berapa hasil sebenarnya dri kebunnya. Ada peluang tidak transparannya manajemen plasma terhadap hasil kelola kebun milik petani. 

Penutup
Untuk menjamin kesejahteraan petani, maka perlu dipastikan akaes lahan dan faktor produksi pendukung lainnya seperti input maupun permodalan. Struktur nilai tambah produk sawit saat ini masih terkonsentrasi di pengusaha besar (pemlik konsesi dan pabrik). Untuk menjamin nilai tambah yang adil maka petani harus kuat secara kelembagaan maupun permodalan sehingga mampu mengelola panen mereka secara bersama. Ide petani (perkumpulan petani) yang memiliki pabrik skala kecil menengah bukanlah suatu hal yang tidak mungkin.

Dec 11, 2013

6 Jam ber-seli ria di Roma




Roma di Italia dikenal sebagai tempat wisata yang memiliki nilai historis dimana jauh sebelum millennium ada sebuah peradaban besar yang tumbuh. Daya tarik inilah yang mendorong banyak wisatawan mengunjungi Roma yang salah satunya untuk memahami sejarah masa lalu. Daya tarik lainnya yaitu terdapat negara terkecil didunia yaitu Vatican. Mengunjungi Roma saja rasanya tidak cukup tanpa mengunjungi Vatican.
Terdapat beragam tempat menarik yang bisa dikunjungi di Roma, mulai monument masa Romawi sampai gereja dan kuil bagi wisatawan yang tertarik melakukan napak tilas religi. Sebagai pusat agama Kristen katolik, gereja tersebar hampir diseluruh Roma. Antara satu tempat dengan lainnya berdekatan dan karena itu mengeksplorasi keindahan Roma bisa dilakukan dengan berbagai moda transportasi seperti kendaraan umum (bis, metro, trem) maupun kendaraan pribadi (scooter, mobil, sepeda). Sebagaimana kota Eropa lainnya, Roma cukup bersahabat dengan pengguna sepeda dan tulisan ini menceritakan pengalaman saya berkeliling Roma menggunakan sepeda lipat (seli) selama 6 jam.
Bersamaan dengan kegiatan kantor, saya hanya mempunyai sedikit waktu untuk berpetualang di Roma. Saya hanya punya waktu selama 6 jam (Jam 9 – 15.00) sebelum bersiap untuk penerbangan pulang pada malam harinya. Dengan keterbatasan itu, pilihan keliling Roma dengan sepeda sepertinya masuk akal.
Penyewaan sepeda
Selama di tanah air sebelum keberangkatan, saya sempatkan googling dengan kata kunci ‘bike rent Rome’ dan cukup banyak yang saya temukan. Saya hubungi mereka bahkan saya sudah memesan 1 sepeda dari penyewaan sepeda yang ada di Stasiun Termini dimana rencananya akan langsung di-gowes. Namun sayang, pesawat saya mengalami delay dan tiba di Roma sudah terlalu sore, sehingga saya putuskan membatalkan pesanan saya (tanpa biaya). Penyewaaan sepeda umumnya berdiri sendiri namun tidak sedikit yang bekerjasama dengan jaringan hotel/hostel. Seperti hostel tempat saya menginap, saya menyewa seli merk Dahon dengan biaya EUR 9 per 24 jam. Saya tidak perlu pergi kemana-mana, pengambilan dan pengembalian sepeda cukup di hostel tersebut. Helm sepeda dan kunci menjadi kelengkapan wajib yang disediakan oleh perusahaan penyewaan sepeda. Semua siap.. saatnya.. action!
Rencanakan tujuan
Punya peta wisata Roma itu wajib dan bisa didapat di toko-toko sekitar Airport, stasiun metro atau stasiun kereta api. Di hotel maupun penginapan biasannya peta wisata tersedia secara cuma-cuma. Tujuan wisata utama bisa dipelajari dari peta maupun membaca laporan perjalanan orang lain di internet. Perlu riset kecil untuk tahu mana yang ‘harus dikunjungi’ dan mana yang ‘bisa diabaikan’. Dua pilihan saya jatuh ke Colosseum dan Vatican karena keduanya punya nilai sejarah, seni dan peradaban.
Siapkan peralatan dan bekal: stamina tetap utama
Menikmati kegiatan bersepeda dibulan November butuh usaha eksta. Musim gugur membawa angina dingin sehingga suhu rata-rata antara 4 o-7oC. Disiang hari ketika cuaca cerah maka suhu tidak sedingin biasanya. Bermodal jaket tebal, syal dan sarung tangan saya bertarung melawan udara dingin dan angin. Tutup kepala, kupluk atau topi sangat membantu melawan dingin dibagian kepala. Diatas semua itu, stamina yang utama sehingga usahakan tidur cukup dimalam sebelumnya.
Mulai dari mana?
Hostel tempat saya tinggal letaknya ditengah kota (Via della Fonte di Fauno), tidak jauh dari Circo Massimo (500m) dan Colloseum (1km) dan sekitar 3km jaraknya dengan Vatican city. Lebih baik memulai dari yang terjauh yaitu Vatican, dilanjutkan menuju landmark utama yang letaknya berdekatan seperti Piazza Navona, Column of Marcus Aerilius, Pantheon, Trevi Fountain, Spanish steps dan berakhir di lokasi yang terdekat dengan hostel yaitu Colosseum.
Jam 8.30 saya sudah bersiap dan mendorong si Dahon keluar hostel. Genjotan demi genjotan, awalnya pelan untuk membiasakan diri dan menyesuaikan temperatur tubuh dan suhu lingkungan sekitar. Ternyata kebiasaan menggunakan MTB 26” mempengaruhi pemakaian tenaga. Ini kali pertama saya pakai seli. Untuk jarak yang tidak terlalu jauh (3km), rasanya tenaga saya cukup terkuras.
Tidak ada pesepeda yang tidak pernah tersesat. Ketika menuju Vatican yang letaknya tidak jauh dari Sungai Tiber, seharusnya dengan mengikuti tepi sungai pasti akan sampai. Namun saya mengambil arah yang berlawanan walaupun mengikuti tepi sungai, saya tersesat sejauh 2 km.
Itinerary
1.       Vatican city (lama berkunjung: 2 jam)
Di Vatican ada dua obyek yang menarik perhatian saya yaitu St Peter Basilica sebagai puncak seni dan arsitektur abad pertengahan. Terdapat lapangan luas yaitu St Peter square yaitu dan Basilica yang mengikuti arsitektur Roman hall of justice yaitu bangunan berbentuk melingkar dengan baris kolom-kolom dan gang. Yang kedua yaitu Sistine Chapel dipergunakan ketika pemilihan Paus baru dan cara mengumumkan terpilihnya Paus baru cukup unik dengan memakai tanda asap dari cerobong asap kapel ini.  Yang menarik dari Sistine Chapel adalah lukisan fresco karya Michaelangelo berjudul Creation of Adam dilangit-langit kapel. Untuk memasuki kapel ini harus melalui Vatican Museum yang dikenakan tarif EUR 16 (tarif museum dan kapel), sehingga sayang jika hanya mengunjungi kapel ini tanpa mengeksplor koleksi-koleksi yang ada di museum ini.

2.       Castel Sant'Angelo (lama berkunjung: 15 menit)
Monumen yang bentuknya mirip benteng terletak menghadap Sungai Tiber tidak jauh dari Vatican (0.5 km) merupakan makam kaisar Hadrian yang dibangun pada tahun 135 M. Dalam masa selanjutnya kastil ini dijadikan banteng dan tempat perlindungan Paus ketika terjadi perang saudara.


3.       Piazza Navona (lama berkunjung: 1 jam termasuk makan siang)
Piazza atau plaza secara harfiahnya diartikan lapangan. Ada banyak sekali piazza yang bisa dikunjungi di Roma, salah satu yang terbaik adalah Piazza Navona yang mencirikan arsitektur barok dimana terdapat patung hasil karya Bernini. Saat ini, piazza menjadi area ruang public beraktivitas dan ajang ekspresi seni seperti grup penyanyi dan pantomime. Cara menikmati tempat-tempat seperti plaza adalah dengan duduk mengamati aktivitas masyarakat sekitar dan karya seni baik itu monument, air mancur maupun arsitektur bangunan disekelilingnya.


4.       Pantheon (lama berkunjung: 15 menit)
Pantheon merupakan kuil penyembahan untuk tujuh dewa Romawi terletak di pusat kota Roma. Terdiri dari struktur bangunan teras (portico) sebanyak 16 tiang dan bangunan bulat (rotunda) terbuat dari pualam, didalamnya terdapat kubah yang dilengkapi taman air.


5.       Column Marcus Aurelius (lama berkunjung: 5 menit)
Monument ini dibangun pada tahun 180-196 M untuk memperingati kemenangan kaisar Marcus Aurelius dalam beberapa peperangan. Dibuat dari pualam, monument ini menggambarkan ukiran melingkar yang indah.

6.       Trevi Fountain (lama berkunjung: 15 menit)
Air mancur yang disebut Trevi Fountain harus masuk daftar wajib dikunjungi. Sekilas tampak seperti air mancur biasa namun dibaliknya ada legenda yang menyebutkan jika melempar koin kedalam kolamnya, maka suatu saat Anda akan kembali ke Roma. Trevi Fountain ini merupakan salah satu objek menarik untuk diabadikan.


7.       Spanish Step (lama berkunjung: 20 menit)
Dikelilingi bangunan bersejarah abad 18, Spanish step menghubungkan Piazza di Spagna dibagian bawah dengan Gereja Trinita dei Monti dibagian atas. Spanish step menarik tidak hanya karena sejarahnya tetapi juga menarik secara visual sehingga khususnya dalam film “The Talented Mr Ripley”. Sepanjang hari kawasan ini ramai dengan pengunjung baik yang lewat maupun hanya duduk-duduk disekitar tangga.

8.       Colloseum (lama berkunjung: 1 jam)
Ini akhir perjalanan saya, Colosseum. Jaraknya sekitar 1,5 km dari Spanish step. Colosseum adalah bangunan berbentuk amphitheatre yang menunjukkan kemegahan arsitektur masa romawi. Dibangun sebagai tempat pertunjukan pertarungan gladiator maupun pertarungan gladiator melawan binatang. Pernah menonton film ‘Gladiator’? Saya berusaha melompat jauh kebelakang untuk merasakan seperti apa rasanya ketika pertarungan gladiator terjadi di Colosseum. Setinggi bangunan 4 lantai dengan pintu-pintu masuk yang ukurannya lebar dan tinggi menambah kesan betapa bangunan ini tampak megah. Para penonton diatur berdasarkan lantai dimana lantai pertama yang terdekat dengan arena diperuntukkan bagi kaisar, keluarga kerajaan dan bangsawan. Diikuti dilantai kedua diisi senator dan keluarga beserta tamu dan paling atas merupakan tempat bagi orang biasa. Untuk masuk Colosseum harus membeli tiket EUR 12.

Tips bersepeda di Roma

  •  Cuaca. Waktu yang tepat mengunjungi Roma adalah ketika musim semi/panas dan musim gugur. Roma bisa sangat panas ketika summer dan cukup berhujan ketika musim gugur. Gunakan pakaian sesuai cuaca dan buat diri sendiri nyaman. 

  • Pilih penyewaan sepeda yang menyediakan sepeda dengan kualitas baik. Cek juga kelengkapan keamanan sepeda seperti helm dan kunci mengingat lalu lintas di Roma terkenal tidak bersahabat. Kunci sepeda penting karena sepeda pun menjadi incaran tangan jahil.

  • Perbekalan dan air minum. Membawa air minum sendiri disarankan walaupun bisa membeli air sepanjang jalan. Bekal makanan bisa disiapkan sendiri maupun membeli disekitar tempat wisata.

  • Mematuhi peraturan setempat. Kebiasaan kita berlalu lintas perlu sedikit diubah jika mengunjungi negara lain. Menyeberang tidak pada tempatnya bisa membahayakan diri sendiri karena pengendara kendaraan (mobil, motor) jarang mengurangi kecepatan karena merasa gilirannya berjalan.

  • Kejahatan terjadi apabila ada kesempatan. Banyak copet dikerumunan misalnya didalam metro. Bahkan di stasiun metro ditulis peringatan mengenai copet ini (ga beda ya dengan di Jakarta J). Selalu waspada ditempat-tempat keramaian dan obyek wisata karena ada saja yang mendekati entah mengajak bicara maupun menawarkan sesuatu. Tolak secara halus dan segera tinggalkan orang-orang yang mencurigakan. Simpan barang berharga di safety box di hotel dan bawa uang secukupnya.

  • Menggunakan smartphone yang tertanam fitur GPS dan memanfaatkan aplikasi travel seperti tripadvisor, googlemaps dll akan sangat membantu terutama ketika kehilangan arah. MIntalah informasi dengan penduduk lokal jika perlu, malu bertanya sesat dijalan. Smart phone juga berguna untuk mencatat obyek wisata pilihan sekaligus berfungsi sebagai kamera.
 cek review saya diblog ini 

Oct 1, 2013

Apa yang terjadi dengan kebijakan mobil murah?


Inilah yang terjadi ketika kebijakan mobil murah diterapkan.
Ada dua hal yang akan terjadi, pertama penggunaan mobil tidak akan berkurang malah bertambah dan kedua, konsumsi bahan bakar akan meningkat dan terjadi dampak lingkungannya berupa polusi udara.